Ini Pesan BTM kepada Ribuan Warga Pegunungan di Kampwolker

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Cagub Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, MM saat diarak waktu orasi di depan ribuan masa di Kampwolker, Perumnas 3 Waena, Sabtu (7/6).

BTM : “Tertunda Kemenangan, Suara Papua Tetap Satu”

banner 325x300

Jayapura, Jurnal Mamberamo Foja – “Saya adalah gunung, saya juga pesisir pantai. Kita adalah satu dalam hak kesulungan atas Negeri Tabi. Lahir di sini, mati pun di tanah ini dan merupakan bukti bahwa kita adalah pemilik sah negeri ini.”

Demikian disampaikan Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, MM (BTM), dalam pidato kemenangannya yang berlangsung di panggung terbuka Kampwolker, Perumnas 3 Waena, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura, Sabtu (7/6/25) sore, sekaligus mendeklarasikan Relawan Papua Bersatu.

Dihadapan masa yang mayoritas berasal dari wilayah pegunungan itu, BTM mengibaratkan, “Batu yang turun dari gunung menuju laut tak mungkin kembali mendaki ia akan menetap selama-lamanya di tanah Tabi.” Kiasan ini menegaskan tekad dan keteguhan hatinya sebagai bagian tak terpisahkan dari Papua.

Lebih lanjut, BTM yang juga ketua DPD Partai PDIP Provinsi Papua itu juga menyatakan telah menerima dukungan penuh dari seluruh masyarakat pegunungan tengah (Lapago dan Meepago), termasuk delapan kabupaten/kota di wilayah ibu kota Papua. “Dengan restu simbolik busur, panah, dan noken, saya menyatakan siap memimpin sebagai Gubernur Papua 2025–2030,” ucapnya lantang.

Seruan Persatuan dan Kolaborasi

BTM menyampaikan komitmennya untuk merangkul seluruh elemen masyarakat Papua, tanpa sekat wilayah atau asal. Mano menegaskan akan memanggil dan mengajak “saudara-saudara dari Lapago dan Meepago” untuk bekerja bersama membangun Papua dalam damai, kasih, dan persatuan.

Ia juga menanggapi isu-isu sektarian yang sempat muncul, di mana ada pihak yang kerap menyuarakan bahwa “orang gunung harus dikembalikan”. Menurut BTM, kalimat tersebut bukan berasal dari dirinya, melainkan dari lawan politik yang mencoba memecah belah rakyat Papua.

“Kalimat itu bukan keluar dari saya, tetapi dari mereka yang ingin menciptakan jarak. Maka siapa pun yang mengucapkan itu, harus bertanggung jawab atas kata-kata yang menabur luka,” tegasnya.

Doa untuk Rekonsiliasi Papua

Dengan suara yang menggugah, Pria kelahiran 30 Maret 1965 itu mengutarakan pesan pertobatan dan rekonsiliasi: “Siapa pun yang masih mengucapkan kalimat pemecah itu, bertobatlah. Karena saya, BTM, sedang berdoa untukmu. Kita adalah gunung, kita adalah pantai. Kita bersaudara, pemilik tanah ini. Kita orang Papua dan kita punya hak untuk berdiri.”

Pria yang juga Ketua umum Persipura Jayapura sejak 2011 sampai sekarang itu menutup pidatonya dengan penuh keyakinan: “Saya bukan tamu, saya bukan pendatang. Saya anak Tabi. Saya bagian dari tanah ini, dan saya akan mengatur serta menjaga tanah leluhur saya.”

Tomi Mano juga menyinggung masa kepemimpinannya selama dua periode sebagai Wali Kota Jayapura. “Sepuluh tahun saya mengabdi di Kota Jayapura. Saya bekerja dengan bersih, dengan amanah. Kini saya siap membangun Papua dalam cinta dan kedamaian,” katanya.

Pidato tersebut disambut meriah oleh ribuan warga yang memadati Kampwolker. Di tengah suasana penuh semangat, sosok pencetus “Hen tecahi yo onomi, Tmar ni hanased” Itu yang artinya “Satu hati membangun kota, untuk kemuliaan Tuhan” tersebut menutup dengan sebuah pengingat: “Di alam terbuka ini, rakyat dapat melihat: siapa yang benar-benar membawa kehidupan, dan siapa yang membiarkan Papua tenggelam dalam penderitaan.”

Laporan: Sony

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *