Foto: istimewa | Tampak Erik Warikar, Pemerhati Otomotif Papua, ketika memberikan keterangan kepada awak media kemarin.

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Pemerhati otomotif Papua, Erik Warikar, meminta Ikatan Motor Indonesia (IMI) segera mendorong pembangunan sirkuit permanen berstandar nasional di Tanah Papua. Permintaan ini muncul menyusul aturan baru yang mewajibkan kejuaraan balap motor digelar di sirkuit berlisensi resmi.
Ketentuan tersebut tertuang dalam Peraturan Balap Motor Kejuaraan Nasional Motor Prix IMI Edisi 2026 Bab I Pasal 3 ayat 2, yang menegaskan bahwa setiap perlombaan berstatus Kejuaraan Nasional harus dilaksanakan di sirkuit permanen yang memenuhi standar serta telah mendapatkan lisensi dari IMI Pusat.
Baca juga: “Wisma Atlet Sepi, KONI Papua Perlu Direformasi Total”
Dalam regulasi tersebut juga ditegaskan bahwa penyelenggaraan kejuaraan nasional, baik balap motor, drag bike maupun grasstrack, wajib dilakukan di lintasan yang telah memiliki sertifikat homologasi aktif dari IMI. Standar ini diterapkan untuk memastikan aspek keselamatan pembalap, kru, serta penonton selama kegiatan berlangsung.
Selain kewajiban homologasi dan lisensi, IMI juga menetapkan sejumlah standar teknis yang harus dipenuhi. Mulai dari spesifikasi lintasan, sistem pengamanan, hingga fasilitas pendukung seperti pit box, sistem komunikasi, petugas keamanan, serta layanan medis berupa ambulans tipe B atau C.
Bahkan sebelum perlombaan digelar, sirkuit wajib menjalani proses inspeksi menyeluruh oleh perwakilan IMI guna memastikan seluruh standar keselamatan terpenuhi.

Melihat ketentuan tersebut, Erik Warikar menilai Papua sudah saatnya memiliki sirkuit permanen yang mampu menggelar event balap berskala nasional.
Menurutnya, selama ini banyak agenda kejuaraan yang sebenarnya bisa digelar di Papua, namun tidak dapat terlaksana karena keterbatasan fasilitas sirkuit yang memenuhi standar nasional.
“Banyak jadwal event balap yang sebenarnya bisa diberikan kepada Papua. Namun sangat disayangkan, hingga kini bahkan di Provinsi Induk Papua belum memiliki sirkuit permanen berstandar nasional,” ujar Warikar.
Ia berharap pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Papua dapat menindaklanjuti masukan tersebut dengan mendorong pembangunan sirkuit permanen yang berlisensi resmi.
Warikar menilai kehadiran sirkuit permanen tidak hanya penting untuk penyelenggaraan kejuaraan, tetapi juga sebagai wadah pembinaan bagi generasi muda Papua yang memiliki minat dan bakat di dunia balap motor.
“Kalau ada sirkuit permanen, pembinaan atlet balap motor di Papua bisa berjalan lebih terarah. Talenta-talenta muda Papua juga punya ruang untuk berkembang hingga ke tingkat nasional, dimana olahraga balap motor juga masuk dalam penyelenggaraan PON, tapi kita belum ada sirkuit” katanya.
Ditempat terpisah, Edwin Rorey pelatih balap juga menyampaikan keluhan yang sama terkait ketiadaan sirkuit balap. Ini merupakan sebuah keterlambatan dalam peningkatan dunia otomotif di Papua.
Menurutnya di Papua ini selalu dibuat sirkuit dadakan atau non permanen, sehingga Rorey meminta kepada Pengprov agar memperhatikan hal ini, supaya bisa mengorbitkan pembalap tingkat Nasional dari Papua.
Dengan fasilitas yang memadai, Papua dinilai berpeluang menjadi salah satu tuan rumah event balap motor nasional di masa depan.
Laporan: Sony Rumainum

















