Foto: istimewa | Tampak Cagub 02 Mathius. D. Fakhiri bersama Victor Buefar dalam sebuah kesempatan.
Oleh: Victor Buefar (Pemerhati Politik)
Jayapura, Jurnal Mamberamo Foja – Kemenangan Kaka Tuan Matius Derek Fakhiri (MDF) sebagai Gubernur Papua tidak semata-mata ditentukan oleh hitungan suara. Lebih dari itu, kemenangan ini adalah cerminan restu rakyat, alam, dan leluhur Papua yang menghendaki persatuan, kedamaian, serta kepemimpinan yang berpihak pada kesejahteraan bersama.
Papua adalah tanah yang diberkati Tuhan. Gunung, sungai, laut, dan hutan telah menjadi saksi perjalanan panjang rakyatnya dalam mencari pemimpin sejati. Terpilihnya MDF menegaskan harapan agar Papua dipimpin dengan kasih, bukan kebencian; dengan hati yang tenang, bukan amarah.
Baca juga: Tokoh Gereja Papua: Serahkan Semua Hasil PSU pada KPU dan Bawaslu
Karena itu, kemenangan ini harus dipandang sebagai kemenangan seluruh rakyat Papua, bukan milik satu kelompok atau wilayah tertentu. Saatnya semua pihak, termasuk simpatisan pasangan lain, menerima hasil ini dengan jiwa besar demi menjaga ketentraman dan kebersamaan.
Jangan ada gerakan yang memecah belah, jangan ada suara yang menebar kebencian. Seperti pesan Marcus Aurelius, “Kemenangan terbesar adalah mengalahkan diri sendiri.” Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu menahan amarah dan memilih jalan damai.
Baca juga: Koalisi Papua Cerah Minta Pendukung Tetap Kawal Hasil PSU dan Jaga Kondusifitas
Firman Tuhan pun menegaskan, “Betapa indahnya dan eloknya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.” (Mazmur 133:1). Inilah saatnya rakyat Papua berdiri bersama, bergandengan tangan membangun negeri tanpa sekat dan perbedaan.
MDF telah diberi mandat, namun keberhasilan kepemimpinan tidak akan lahir tanpa dukungan seluruh rakyat. Bersama rakyat, bersama doa leluhur, bersama alam Papua, kemenangan ini akan menjadi jalan bagi terwujudnya Papua yang damai, bersatu, dan bermartabat. Solie Deo Gloria.
Laporan: Roy

















