Petani Kampung Sisik Panen Jagung, Kapolsek Kaureh: Tantangan Pemasaran Jadi PR

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa / Kapolsek Kaureh bersama petani Kampung sisik Panen jagung, (8/4).

Sentani, Jurnal Mamberamo Foja – Ketahanan pangan bukan sekadar soal hasil panen, tetapi juga soal kelembagaan, akses pasar, dan dukungan sistemik.

banner 325x300

Hal inilah yang tampak dalam kegiatan Panen Raya Jagung di Kampung Persiapan Sisik, Distrik Kaureh, pada Selasa (8/4).

Meski hasil panen menggembirakan, para petani masih dihadapkan pada kesulitan menjual jagung kering mereka.

Panen yang digelar di lahan milik kelompok tani lokal ini dihadiri Kapolsek Kaureh IPTU Gunadi bersama jajaran Polsek, tokoh masyarakat, dan warga.

Kegiatan ini bukan hanya simbol keberhasilan bercocok tanam, melainkan juga momentum untuk memperkuat peran kelompok tani sebagai aktor penting dalam pembangunan pangan berkelanjutan.

IPTU Gunadi dalam sambutannya mengapresiasi kerja keras para petani dan menekankan pentingnya keberlanjutan.

Ia mendorong masyarakat agar tidak hanya fokus pada hasil panen, tetapi juga memperhatikan regenerasi bibit, pengelolaan kelompok tani, serta akses ke pasar dan teknologi.

“Penting bagi kelompok tani memiliki struktur organisasi yang rapi. Dengan demikian, mereka bisa lebih mudah mengakses bantuan pemerintah maupun mengatur strategi pemasaran,” ujar Kapolsek.

Saat ini, kendala utama yang dihadapi petani Kampung Sisik adalah pemasaran jagung kering. Tanpa akses yang memadai ke pasar, hasil panen berisiko tidak memberikan dampak ekonomi yang optimal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan juga memerlukan kebijakan lintas sektor, dari pertanian hingga transportasi dan perdagangan.

Warga berharap adanya fasilitasi dari pemerintah dalam bentuk alat pertanian, pembukaan akses jalan, hingga penghubung ke pembeli atau koperasi.

Mereka juga menyampaikan kesiapan untuk memperluas lahan dan melanjutkan aktivitas pertanian, asalkan ada pendampingan yang berkelanjutan.

Panen raya ini menjadi contoh bagaimana pendekatan kolaboratif antara aparat keamanan dan masyarakat bisa menghasilkan sesuatu yang nyata.

Namun, tantangannya kini bukan hanya menanam dan memanen, melainkan bagaimana hasil itu memberi nilai tambah secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat.

Laporan: Irfan / rilis

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *