IHSG Rontok 206 Poin dan Rupiah Menyentuh Level Rp 18.042

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Sudirman Central Business District (SCBD) Jalan Jend. Sudirman, Kav. 52-53, Jakarta Selatan. 

Jakarta, jurnalmamberamofoja.com – Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,48 persen atau turun 206,8 poin hingga ditutup pada level 5.734,256 pada akhir sesi pertama perdagangan.

banner 325x300

Pelemahan tajam tersebut terjadi bersamaan dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.00 WIB, rupiah melemah hingga menyentuh level Rp18.042 per dolar AS, mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap aset-aset keuangan domestik.

Data RTI Business menunjukkan nilai transaksi saham selama sesi pertama mencapai Rp12,74 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 22,84 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi mencapai 1,38 juta kali. Mayoritas sektor perdagangan bergerak di zona merah seiring meningkatnya aksi jual investor.

Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih mampu mencatatkan penguatan signifikan. Saham ESTI milik Ever Shine Tex memimpin daftar penguatan dengan kenaikan 31,78 persen ke level 141. Disusul MGNA yang melonjak 26,51 persen menjadi 105, ALKA naik 18,03 persen ke 720, BELL menguat 16,13 persen ke 108, serta BOGA yang bertambah 11,57 persen menjadi 1.350.

Sebaliknya, sejumlah saham mengalami koreksi tajam. MPRO menjadi saham dengan penurunan terbesar setelah terkoreksi 15 persen ke level 7.650. Saham WEHA, KJEN, ARKO, dan ICON juga masuk dalam jajaran top losers dengan penurunan mendekati batas auto reject bawah.

Dari sisi nilai transaksi, saham perbankan masih menjadi incaran utama investor. Saham BBCA memimpin dengan nilai transaksi mencapai Rp1,69 triliun, diikuti TPIA sebesar Rp987,14 miliar, BBRI Rp731,11 miliar, BMRI Rp658,05 miliar, dan DSSA Rp490,90 miliar.

Baca juga: Rupiah Tertekan Hebat, Dolar AS Nyaris Tembus Rp18.000

Sementara berdasarkan volume perdagangan, saham BUMI menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan volume mencapai 29,22 juta lembar. Posisi berikutnya ditempati BIPI, DSSA, BNBR, dan DEWA.

Tekanan yang dialami IHSG tidak terjadi sendiri. Bursa saham di kawasan Asia juga kompak bergerak melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,39 persen, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,40 persen, SSE Composite China melemah 0,43 persen, sementara Straits Times Singapura turun 1,40 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan sentimen negatif yang melanda pasar regional masih cukup kuat. Ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi, serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor yang mendorong aksi jual di pasar saham Indonesia.

Pelaku pasar kini menantikan langkah-langkah stabilisasi dari otoritas moneter dan perkembangan sentimen global yang akan menentukan arah pergerakan IHSG dan rupiah pada perdagangan selanjutnya.

Laporan: Roy Hamadi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *