Dari Keerom hingga Biak, Jejak MDF Menggerakkan Ekonomi Kerakyatan Papua

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Gubernur Papua Matius D. Fakhiri, SIK.,SH.,MH., saat melakukan kunjungan kerja ke Pasar Tradisional. 

Oleh: Karmin Lasuliha Pendiri Yayasan Bina Generasi Papua

banner 325x300

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Membangun Papua bukanlah pekerjaan yang mudah. Tanah yang kaya akan sumber daya alam, budaya, dan potensi manusia ini menyimpan berbagai tantangan yang kompleks. Dibutuhkan pemimpin yang mampu memahami persoalan secara menyeluruh dan hadir langsung di tengah masyarakat untuk melihat kebutuhan yang sesungguhnya.

Saya sering membayangkan memimpin Papua seperti merangkai pecahan kaca yang berserakan.

Prosesnya rumit, penuh tantangan, dan membutuhkan ketelitian agar setiap bagian dapat tersusun menjadi sebuah harapan baru. Karena itu, pembangunan Papua tidak cukup dilakukan dari balik meja birokrasi, melainkan harus berangkat dari realitas kehidupan masyarakat di kampung-kampung.

Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian saya tertuju pada langkah yang dilakukan Gubernur Papua, Matius Derek Fakhiri (MDF). Di tengah berbagai tantangan pembangunan, ia memilih turun langsung ke lapangan dan memastikan program pemerintah benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Bagi MDF, visi “Papua Cerah” bukan sekadar slogan. Visi tersebut diterjemahkan menjadi berbagai program yang berorientasi pada penguatan ekonomi rakyat. Salah satu contohnya terlihat di Kabupaten Keerom melalui pembangunan pabrik pakan ternak yang ditandai dengan peletakan batu pertama.

Pembangunan pabrik tersebut bukan hanya menghadirkan fasilitas industri baru, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi daerah. Kehadiran pakan lokal diharapkan mampu mendukung sektor peternakan dan perikanan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar Papua.

Komitmen yang sama juga terlihat saat MDF menghadiri panen raya jagung di Keerom. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan pentingnya sektor pertanian sebagai fondasi ekonomi masyarakat Papua. Menurutnya, Papua harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.

Langkah penguatan ekonomi tersebut tidak berhenti di Keerom. Di Kabupaten Sarmi, perhatian diberikan pada pengembangan komoditas unggulan masyarakat seperti kelapa, kopra, dan minyak kelapa. Potensi lokal yang selama ini belum berkembang secara maksimal didorong agar mampu menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Sementara di Kabupaten Mamberamo Raya, fokus pembangunan diarahkan pada penyelesaian persoalan infrastruktur dasar. Saat meninjau kondisi jalan yang terputus di wilayah Trimuris, MDF tidak hanya menerima laporan, tetapi langsung menyatakan komitmennya untuk memasukkan pembangunan jalan tersebut dalam perubahan anggaran pemerintah.

Langkah itu menunjukkan pemahaman sederhana namun mendasar bahwa pembangunan ekonomi tidak akan berjalan tanpa akses yang memadai. Jalan yang baik akan membuka konektivitas, memperlancar distribusi hasil pertanian, meningkatkan pelayanan publik, serta mengurangi keterisolasian masyarakat.

Gubernur Papua Matius Fakhiri bersama Kepala Kampung Trimuris, Kabupaten Mamberamo Raya
Gubernur Papua Matius Fakhiri bersama Agus Kotame Kepala Kampung Trimuris, Kabupaten Mamberamo Raya. 

Baca juga: Papua Cerah Bergerak: MDF Sambangi 6 Kabupaten dalam Kunjungan Kerja 12 Hari

Di Kabupaten Waropen, MDF juga memberikan perhatian terhadap peran masyarakat adat dalam pembangunan daerah. Dalam dialog bersama para pemangku adat dari wilayah Demisa, Burate, dan Didat, ia menegaskan bahwa masyarakat adat harus menjadi pelaku utama pembangunan di tanahnya sendiri.

Ia menilai generasi muda Papua harus memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk berkembang tanpa kehilangan hak-hak mereka di tengah masuknya investasi dan aktivitas perusahaan besar. Pembangunan, menurutnya, harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

Pendekatan yang sama terlihat saat kunjungannya ke Kabupaten Kepulauan Yapen. MDF tidak ingin hanya menerima laporan administratif yang terlihat baik di atas kertas, melainkan memastikan hasil pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat. Karena itu, pengembangan sektor perikanan rakyat dan pembukaan lahan sawah baru terus didorong sebagai bagian dari strategi peningkatan ekonomi masyarakat.

Di Kabupaten Supiori, perhatian terhadap ekonomi kerakyatan juga tampak melalui dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis. Program tersebut dipandang bukan hanya sebagai upaya pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai peluang bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal untuk menjadi pemasok bahan pangan.

Dengan pola seperti itu, manfaat program pemerintah tidak berhenti pada penerima bantuan, tetapi turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Sementara itu, di Kabupaten Biak Numfor, MDF meletakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih di Kampung Warsansan. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak masyarakat memanfaatkan lahan yang dimiliki untuk menanam berbagai komoditas produktif seperti kelapa, pisang, mangga, dan jambu.

Pesan yang disampaikan sederhana, namun memiliki makna besar. Masyarakat didorong menjadi produsen, sementara koperasi berfungsi sebagai wadah untuk menampung, mengelola, dan memasarkan hasil produksi. Dengan demikian, petani memiliki posisi tawar yang lebih baik dan tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak.

Dari berbagai langkah tersebut terlihat adanya upaya membangun mata rantai ekonomi yang saling terhubung, mulai dari produksi, distribusi, hingga pemasaran. Pembangunan tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk gedung megah atau proyek besar di perkotaan. Pabrik pakan, jalan kampung, koperasi desa, lahan pertanian, dan bibit tanaman juga dapat menjadi fondasi pembangunan yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Tentu, perjalanan menuju Papua yang mandiri secara ekonomi masih menghadapi banyak tantangan. Hambatan birokrasi, keterbatasan infrastruktur, hingga berbagai persoalan di lapangan akan terus menjadi ujian. Namun semangat untuk hadir di tengah masyarakat dan memastikan pembangunan menjangkau rakyat kecil merupakan modal penting bagi masa depan Papua.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan Papua tidak hanya diukur dari banyaknya bangunan yang berdiri di kota-kota besar. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuan menghadirkan kesejahteraan hingga ke kampung-kampung terpencil, menggerakkan ekonomi masyarakat, membuka peluang bagi generasi muda, dan menghadirkan harapan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Laporan: Sony Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *