Foto: Irfan | Tampak Fransiska Awoitauw, seorang petani
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Warga di sekitar aliran kali yang terhubung dengan Danau Sentani mulai angkat suara. Mereka mendesak pemerintah daerah agar tidak lagi menunggu kondisi darurat untuk membersihkan kali, sekaligus menyoroti kinerja petugas kebersihan yang dinilai kian melemah.
Seorang petani kebun, Fransiska Awoitauw (40), menegaskan bahwa kali tersebut merupakan jalur vital pembuangan air dari Danau Sentani. Jika alirannya tersumbat, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat di kawasan pesisir danau.
“Kalau air naik dan kali tersumbat, kampung-kampung di sekitar danau bisa tenggelam,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: “Napas” Danau Tersendat, Tokoh Adat Dorong Aksi Bersihkan Kali Jaifuri
Menurut Fransiska, pembersihan kali seharusnya menjadi program rutin, bukan sekadar respons saat bencana. Ia mengusulkan adanya jadwal tetap, minimal tiga bulan sekali, dengan cakupan hingga ke bagian dalam aliran.
“Jangan tunggu banjir baru bergerak. Harus rutin dibersihkan sampai ke dalam supaya aliran air tetap lancar,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mempertanyakan keberadaan petugas kebersihan yang sebelumnya ditugaskan menjaga aliran kali. Warga menilai, peran petugas kini nyaris tidak terlihat di lapangan.
“Dulu ada petugas dan motoris yang jaga kali, sekarang sudah tidak kelihatan lagi. Kami tidak tahu kenapa,” katanya.
Ia menjelaskan, pembersihan di bagian dalam kali tidak bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan perahu bermotor serta tenaga yang memahami kondisi arus agar pekerjaan berjalan efektif.
“Kalau mau bersihkan sampai ke dalam, harus pakai speed dan orang yang tahu jalur. Itu juga perlu biaya,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera memperbaiki sistem pengelolaan kebersihan kali, termasuk memastikan dukungan anggaran dan operasional tersedia secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah risiko banjir yang terus mengancam kawasan Danau Sentani.
Laporan: M. Irfan

















