“Napas” Danau Tersendat, Tokoh Adat Dorong Aksi Bersihkan Kali Jaifuri

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak sejumlah tokoh Adat terlibat langsung bersihkan kali Jaifuri, Kamis (9/4) di Kampung Puay. 

Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Dukungan kuat datang dari para tokoh adat di wilayah Danau Sentani terhadap rencana pembersihan Kali Jaifuri yang akan dilaksanakan oleh Klasis GKI Sentani bersama Pemerintah Kabupaten Jayapura. Langkah ini dinilai mendesak untuk mengantisipasi luapan air danau yang kian sering mengancam permukiman warga.

banner 325x300

Ondofolo Raukhokonomi Kampung Puay, Yakob Fiobetauw, menegaskan bahwa Kali Jaifuri merupakan satu-satunya jalur pembuangan air dari Danau Sentani. Karena itu, kondisi aliran kali sangat menentukan stabilitas permukaan air danau.
Menurutnya, jika aliran kali tersumbat, air danau tidak memiliki ruang untuk keluar sehingga berpotensi meluap dan merendam rumah warga di sekitar pesisir.

Ia menjelaskan, masyarakat adat sejatinya telah memahami siklus alami naik-turunnya air danau. Namun, kondisi saat ini dinilai tidak lagi murni faktor alam, melainkan dipengaruhi aktivitas manusia.

Alih fungsi lahan, penimbunan dusun sagu, serta berkurangnya kawasan resapan air disebut sebagai penyebab utama meningkatnya volume air secara cepat saat hujan turun.

“Sekarang hujan tidak perlu lama, air danau sudah cepat naik dan menggenangi rumah warga,” ungkapnya.

Nampak Franklin Wahey anggota DPR Papua F-Demokrat, ikut berpartisipasi bersihkan kali Jaifuri
Nampak Franklin Wahey anggota DPR Papua F-Demokrat, ikut berpartisipasi bersihkan kali Jaifuri

Baca juga: Debit Air Naik Drastis, Danau Sentani Ancam Pemukiman Warga

Kekhawatiran pun mulai dirasakan para pemimpin adat, terutama terhadap potensi kehilangan tempat tinggal bagi masyarakat di sekitar danau. Karena itu, pihaknya menyambut baik inisiatif gereja dan pemerintah untuk melakukan kerja bakti membersihkan Kali Jaifuri.

Ia menegaskan, masyarakat adat memberikan izin penuh sekaligus membuka akses bagi seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Kami harap semua datang dengan niat baik, bekerja bersama agar kondisi danau kembali normal,” ujarnya.

Dukungan serupa juga disampaikan Kepala Suku Felayme Kampung Yahim, Hermes Felle. Ia menyebut Kali Jaifuri sebagai “jalur pernapasan” Danau Sentani yang harus dijaga agar tetap lancar.

Menurutnya, gangguan kecil saja pada aliran kali dapat berdampak besar terhadap kenaikan permukaan air danau.

Hermes juga menyoroti berbagai aktivitas manusia yang memperparah kondisi, mulai dari penimbunan kawasan pesisir untuk pembangunan hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Ia mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam memanfaatkan kawasan danau, termasuk mengendalikan aktivitas ekonomi seperti keramba apung yang berpotensi mempercepat pendangkalan.

Selain itu, kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan lingkungan dinilai menjadi kunci utama mencegah kerusakan lebih lanjut.

“Danau ini bukan tempat sampah. Kalau terus dibiarkan, pendangkalan akan makin parah dan aliran air terhambat,” tegasnya.

Hermes harap sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan gereja dapat terus diperkuat untuk menjaga kelestarian Danau Sentani sekaligus menekan risiko bencana.

“Kita tidak bisa hanya menyalahkan alam. Perilaku manusia juga harus berubah agar danau tetap terjaga,” katanya.

Laporan: M. Irfan

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *