Foto: istimewa | Tampak Alm. Johszua Robert Mansoben, MA.,Ph.D.,

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Dunia akademik Papua kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Antropolog senior Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Johszua Robert Mansoben, MA, Ph.D, meninggal dunia pada Rabu (11/2) di Rumah Sakit Dian Harapan, Waena, Kota Jayapura.
Kabar duka ini pertama kali beredar melalui pesan WhatsApp di grup Kabar Papua Selatan sekitar pukul 11.00 WIB.
“Ijin Bapak dan Ibu. Info duka, Bapa Dr J Mansoben telah meninggal dunia. Jenazah sementara berada di Rumah Sakit Dian Harapan,” demikian pesan yang disampaikan Roby Mansoben.
Kepergian Mansoben bukan sekadar kehilangan seorang dosen. Ia adalah ilmuwan yang meletakkan fondasi penting dalam kajian antropologi politik di Tanah Papua.
Dosen FISIP Uncen, Dr Marinus Mesak Yaung, menilai Mansoben sebagai figur kunci dalam pengembangan studi sistem pemerintahan tradisional Papua.
Menurutnya, almarhum menjadi salah satu akademisi Papua yang berhasil menembus studi doktoral di Rijksuniversiteit Leiden, Belanda.
“Pak Johszua Mansoben memperkenalkan sistem pemerintahan tradisional di Papua dengan tujuh wilayah adat,” ujar Marinus dalam pesan di grup The Spirit of Papua (SoP).
Baca juga: Selamat Jalan Dr. Hans Kaiwai, Sosok yang Mengabdi Tanpa Lelah untuk Uncen
Hal senada disampaikan Dr Manuel Kaisiepo, S.IP., M.H. Ia mengungkapkan, Mansoben meraih gelar doktor pada 1994 dengan disertasi yang mengulas kepemimpinan dalam sistem politik tradisional Papua.
Disertasi tersebut mengupas konsep kepemimpinan tipe big man yang hidup dalam struktur sosial masyarakat Papua. Karya ilmiah itu kemudian diterjemahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (kini BRIN) dan diterbitkan pada 1995 dengan judul Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya.
Dalam kata pengantar bukunya, Mansoben menegaskan bahwa karya tersebut merupakan hasil penelitian panjang sejak 1988 hingga 1990. Ia menyadari data yang digunakan belum mencakup perkembangan setelah sensus 1990 dan pemekaran wilayah berikutnya.
Namun, ia berharap keterbatasan itu tidak mengurangi nilai ilmiah dan kontribusi pemikirannya bagi Papua.
Baca juga: Selamat Jalan Sang Maestro Papua, Drs. Agus Samori, M.Si, In Memoriam
Mansoben juga menekankan bahwa terbitnya buku tersebut merupakan hasil kolaborasi banyak pihak. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada semua yang terlibat dalam proses akademik hingga publikasi karyanya.
Kepergian Johszua Robert Mansoben meninggalkan ruang kosong dalam dunia pendidikan tinggi Papua. Pemikirannya tentang sistem politik tradisional dan struktur kepemimpinan adat akan terus menjadi rujukan penting bagi generasi akademisi berikutnya.
Selamat jalan, Bapak Mansoben. Jejak intelektualmu akan tetap hidup dalam lembar-lembar sejarah dan pemikiran Papua.
Laporan: Sony Rumainum

















