Foto: Irfan | Tampak Bernadikus Patrick Daundi Rektor Universitas Jayapura, ketika diwawancarai awak media usai wisuda.
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, Dr. Suriel Samuel Mofu, mendorong pemerintah daerah di Tanah Papua segera menyerap lulusan tenaga kesehatan dari Universitas Jayapura guna mengatasi kekurangan tenaga medis yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Hal itu disampaikan Mofu usai menghadiri wisuda perdana Universitas Jayapura sebagai universitas di Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (9/5/2026).
Dalam prosesi wisuda tersebut, sebanyak 90 mahasiswa dari berbagai program studi kesehatan resmi diluluskan dan dipersiapkan untuk terjun ke dunia pelayanan kesehatan.
Menurut Mofu, perkembangan Universitas Jayapura sangat pesat sejak bertransformasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) menjadi universitas. Ia menilai keberadaan kampus tersebut menjadi aset penting bagi Papua dalam mencetak sumber daya manusia unggul di bidang kesehatan.
“Perubahan dari Stikes menjadi Universitas Jayapura berlangsung cepat. Ini menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Jayapura yang memakai nama Universitas Jayapura,” ujarnya.
Ia menegaskan Papua kini telah mampu menghasilkan tenaga kesehatan sendiri yang berkualitas dan siap bekerja. Bahkan, banyak lulusan keperawatan dan kebidanan dari kampus tersebut telah lulus uji kompetensi nasional sehingga memenuhi syarat memperoleh Surat Tanda Registrasi (STR).
“Papua sudah memproduksi sendiri tenaga kesehatan potensial yang siap digunakan,” katanya.
Mofu mengatakan pemekaran daerah otonom baru di Papua membuat kebutuhan tenaga kesehatan terus meningkat. Karena itu, pemerintah daerah diminta memberi prioritas kepada lulusan asli Papua maupun mereka yang lahir dan besar di Papua karena dianggap lebih memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak hanya berfokus mencari pekerjaan di Kota Jayapura, tetapi bersedia mengabdi di wilayah pedalaman dan daerah terpencil yang masih minim tenaga kesehatan.
“Jangan berkumpul di Jayapura. Pergilah ke seluruh pelosok Tanah Papua untuk bekerja di pusat pelayanan kesehatan,” tegasnya.
Menurutnya, pemerataan tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk menekan angka kematian bayi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat di Papua. Saat ini, kata dia, masih banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan di daerah yang kekurangan tenaga perawat maupun bidan.
Karena itu, Mofu berharap ada sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam memetakan serta menyiapkan kebutuhan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing wilayah.
“Pemerintah daerah bisa langsung menyampaikan kebutuhan tenaga kesehatan kepada perguruan tinggi agar dipersiapkan bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Jayapura, Bernardikus Patrick Daundi, mengaku bangga atas kelulusan 90 mahasiswa yang diharapkan mampu mengabdikan ilmu mereka untuk pelayanan masyarakat, terutama di wilayah pedalaman Papua.
“Harapan kami, ilmu yang diperoleh para lulusan bisa dikembangkan untuk pelayanan masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan para wisudawan berasal dari program studi S1 Keperawatan, S1 Farmasi, profesi Bidan, dan profesi Ners. Daundi berharap para lulusan tidak hanya mencari pekerjaan di perkotaan, tetapi juga siap bekerja di kampung-kampung dan wilayah pegunungan yang masih membutuhkan tenaga kesehatan.
“Kalau di kota tenaga kesehatan sudah terlalu banyak, bahkan ada yang menganggur. Tetapi di Papua Pegunungan dan daerah kampung, kebutuhan tenaga kesehatan masih sangat besar,” ujarnya.
Selain itu, Daundi berharap pemerintah daerah membuka lebih banyak peluang kerja bagi lulusan asli Papua, baik melalui tenaga kontrak daerah maupun program pelayanan kesehatan di kampung-kampung.
Ia menjelaskan kampus tersebut awalnya berdiri sebagai Stikes Jayapura pada 2009 di kawasan Caravan, Jayapura, sebelum pindah ke Jalan Yomake, Tabita, pada 2017. Status Stikes resmi berubah menjadi universitas pada 12 Desember 2024 berdasarkan surat keputusan perubahan bentuk perguruan tinggi.
“Ini menjadi wisuda pertama kami sebagai universitas. Saat masih Stikes, wisuda pertama dilakukan tahun 2012 dan hingga 2024 sudah 12 kali wisuda,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Daundi juga meminta pemerintah daerah melibatkan Universitas Jayapura dalam program pembangunan daerah, terutama pengembangan sumber daya manusia dan pelayanan masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, termasuk pengabdian kepada masyarakat. Selama ini pihak kampus telah menjalankan berbagai kegiatan sosial dan edukasi di kampung-kampung.
“Kami berharap bisa menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam pembangunan. Jika pemerintah membutuhkan pandangan akademisi, kami siap memberikan masukan,” ujarnya.
Laporan: M. Irfan

















