Foto: istimewa | Tampak Frits Ramandey, Koordinator Komnas HAM Papua
Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Dugaan penembakan terhadap warga sipil kembali mengguncang wilayah Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Seorang remaja perempuan, Anite Telenggen (17), yang tengah hamil enam bulan, mengaku menjadi korban penembakan oleh aparat bersenjata di kampung halamannya.
Pengakuan tersebut disampaikan langsung kepada tim Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) perwakilan Papua saat menjenguk korban di rumah sakit di Kota Jayapura, usai insiden yang terjadi pada Sabtu (18/4/2026).
Kepala Kantor Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, mengungkapkan bahwa korban dalam kondisi sadar dan mampu memberikan keterangan kepada tim. Dari penuturannya, Anite mengaku ditembak di Kampung Kembru, Distrik Kembru, saat situasi kampung sedang tidak kondusif.
“Korban mengalami luka tembak di bagian leher. Ia menyampaikan melihat aparat berseragam loreng dengan senjata saat kejadian berlangsung,” ujar Frits dalam keterangan tertulis.
Baca juga: Korban Sipil Berjatuhan di Puncak–Dogiyai, Wapres Gibran Didesak Ambil Langkah Nyata
Peristiwa itu disebut terjadi di depan honai, rumah adat masyarakat Papua, yang saat itu berada dalam situasi tegang. Keterangan korban kini menjadi pintu awal bagi Komnas HAM untuk menelusuri dugaan pelanggaran HAM dalam insiden tersebut.
Komnas HAM Papua menegaskan akan melakukan investigasi secara mendalam dan independen.
Selain menggali keterangan korban, tim juga berencana turun langsung ke lokasi kejadian guna mengumpulkan bukti serta mendengar kesaksian warga setempat.
“Kami perlu memastikan fakta sebenarnya. Semua pihak harus membuka akses agar proses penelusuran berjalan objektif dan transparan,” tegas Frits.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) terkait tudingan yang disampaikan korban. Klarifikasi dari aparat dinilai penting untuk menjaga keberimbangan informasi.
Kasus ini kembali menyoroti rapuhnya kondisi keamanan di wilayah pegunungan Papua, khususnya Kabupaten Puncak, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dilanda konflik bersenjata.
Selain aspek keamanan, perlindungan terhadap warga sipil terutama kelompok rentan seperti perempuan dan anak kembali menjadi sorotan serius. Kasus yang menimpa Anite Telenggen pun kini menyita perhatian publik dan diharapkan dapat diusut secara adil, transparan, serta menjunjung tinggi prinsip hak asasi manusia.
Laporan: Sony Rumainum

















