Foto: Irfan | Nampak Frangklin Wahey, Ketua Komunitas Peduli Sungai.
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh bersifat musiman.
Ketua Komunitas Peduli Sungai, Frangklin Wahey, menegaskan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga Kali Jaipuri, bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi secara berkelanjutan.
Menurutnya, karakter alami Kali Jaipuri tidak bisa diubah secara instan dengan intervensi alat berat. Sungai tersebut memiliki kontur khas berupa bagian dalam dan dangkal yang memengaruhi aliran air, terutama saat debit meningkat.
“Ini kondisi alamiah yang tidak bisa dipaksa berubah. Ketika air naik, bagian dangkal akan tertutup dan berpotensi memicu luapan,” ujar Wahey.
Ia menilai, solusi jangka panjang terletak pada perawatan rutin dari hulu hingga hilir. Keterlibatan masyarakat lokal, terutama pemuda di Kampung Puai, disebut menjadi kunci menjaga fungsi alami sungai tetap berjalan.

Baca juga: “Napas” Danau Tersendat, Tokoh Adat Dorong Aksi Bersihkan Kali Jaifuri
Data yang dihimpun komunitas menunjukkan adanya kemajuan dalam penanganan penyumbatan aliran. Pada 2019 tercatat 17 titik sumbatan besar, berkurang menjadi 13 titik pada 2021, dan kini tersisa tiga titik utama. Namun, muncul persoalan baru dari aktivitas dulang yang menciptakan empat titik sumbatan tambahan.
Wahey menegaskan bahwa aktivitas ekonomi tersebut tidak dilarang, tetapi harus dilakukan dengan memperhatikan dampak lingkungan.
“Silakan beraktivitas, tapi jangan sampai material seperti kayu dibuang ke sungai karena itu memperparah penyumbatan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan ekosistem saat ini sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia. Karena itu, kesadaran kolektif menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian daerah aliran sungai, khususnya yang bersumber dari Pegunungan Cycloop.
Upaya lain yang dinilai efektif adalah menjaga kawasan resapan air dengan menanam vegetasi di bantaran sungai. Wahey menyarankan penanaman pohon seperti bambu, kelapa, dan sagu dengan jarak minimal lima meter dari tepi sungai guna memperkuat daya serap air.
Selain itu, masyarakat di sekitar Danau Sentani diimbau tidak mengalihfungsikan lahan resapan, termasuk dusun sagu, menjadi kawasan pembangunan.
“Jika lahan resapan hilang, air hujan tidak tertahan dan risiko banjir akan semakin besar,” katanya.
Wahey berharap sinergi antara masyarakat dan pemerintah dapat mencegah bencana serupa terulang di masa depan.
“Alam harus dijaga bersama. Kalau kita peduli dari sekarang, kita bisa menghindari dampak yang lebih besar ke depan,” tutupnya.
Laporan: M. Irfan

















