Bom Perang Dunia II Kembali Meledak di Biak, Ancaman Mematikan yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Salah Satu Bangkai Bom Berkekuatan Besar Peninggalan Tentara Amerika di Goa Binsari Goa Jepang di Biak lokasi Pintu Angin. 

Biak Numfor, jurnalmamberamofoja.com – Ledakan bom aktif yang terjadi pada Minggu siang (31/5/2026) kembali membuka ingatan kolektif masyarakat Biak Numfor tentang bahaya laten peninggalan Perang Dunia II yang hingga kini masih tersebar di berbagai wilayah, baik di daratan maupun di dasar laut.

banner 325x300

Peristiwa yang menimbulkan korban tersebut menjadi pengingat bahwa meski perang telah berakhir lebih dari tujuh dekade lalu, ribuan bom, granat, mortir, dan amunisi lainnya masih tersimpan di sejumlah lokasi dan sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan warga.

Kabupaten Biak Numfor dikenal sebagai salah satu wilayah strategis dalam sejarah Perang Dunia II.

Kawasan ini pernah menjadi basis penting operasi militer Jepang maupun Sekutu, khususnya Amerika Serikat. Akibatnya, berbagai jenis persenjataan dan bahan peledak tertinggal dalam jumlah besar dan sebagian masih aktif hingga saat ini.

Di Pulau Numfor, masyarakat setempat telah lama mengenal kawasan Pantai Asaibori hingga Yenmanu, termasuk Tanjung Srundi, sebagai daerah yang menyimpan banyak peninggalan perang.

Berdasarkan cerita para saksi sejarah dan penuturan masyarakat adat, ribuan bom pernah ditemukan di wilayah tersebut karena pada masa perang digunakan sebagai lokasi penyimpanan logistik dan persenjataan militer Amerika Serikat.

Persenjataan itu diketahui menjadi bagian dari operasi militer Sekutu yang menyasar sejumlah wilayah di Papua, termasuk kawasan Doreri dan pesisir Nabire. Bahkan pada periode 1967 hingga 1969, sejumlah perahu layar dari luar daerah dilaporkan datang ke Numfor untuk mengambil bom-bom yang masih dianggap baru dan memiliki kandungan bahan peledak yang bernilai ekonomis.

Selain sebagai pusat logistik militer, beberapa kawasan di Numfor juga diyakini pernah menjadi lokasi persembunyian pasukan Jepang. Hingga kini, jejak sejarah berupa bunker, gua pertahanan, dan lokasi perlindungan tentara Jepang masih dapat ditemukan di sejumlah titik.

Sementara itu di Pulau Biak, sisa-sisa amunisi perang masih kerap ditemukan di wilayah Sorido, Ridge, Mokmer, Ibdi hingga Soryar di Distrik Biak Timur. Kawasan tersebut merupakan medan pertempuran sengit antara pasukan Jepang dan Sekutu selama berlangsungnya perang di Pasifik.

Tak hanya di daratan, ancaman serupa juga diyakini masih tersimpan di wilayah perairan. Kepulauan Padaido, misalnya, dipercaya menyimpan banyak bom dan amunisi yang dibuang ke laut setelah perang berakhir. Sebagian memang telah ditemukan oleh masyarakat, namun diyakini masih banyak yang berada di dasar laut pada kedalaman tertentu.

Masyarakat adat bahkan mengaitkan nama Padaido dengan sejarah peperangan yang pernah terjadi di kawasan tersebut. Dalam penuturan masyarakat setempat, kata “Padai” dimaknai sebagai senjata atau bedil, sedangkan “Do” berarti teluk, sehingga nama Padaido diyakini memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan persenjataan di wilayah itu sejak masa lampau.

Ledakan bom peninggalan perang yang menelan korban jiwa sebenarnya bukan pertama kali terjadi di Biak. Warga yang tinggal di sekitar kawasan Ridge masih mengingat tragedi ledakan bom di Kampung Mandouw sekitar tahun 1964 yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Sejumlah warga yang saat itu masih berusia anak-anak mengaku menyaksikan langsung korban-korban ledakan diangkut menggunakan truk menuju Rumah Sakit Umum Ridge I. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat karena banyak korban mengalami luka berat hingga meninggal dunia.

Sebagian besar korban diketahui merupakan warga yang mencari nafkah dari material sisa perang tanpa memahami sepenuhnya risiko yang mengintai dari bahan peledak aktif tersebut.

Hingga saat ini, aktivitas nelayan maupun masyarakat pesisir masih berpotensi menemukan bom dan amunisi aktif peninggalan perang. Tekanan ekonomi sering kali membuat sebagian warga nekat memindahkan, menyentuh, bahkan membongkar benda-benda berbahaya tersebut tanpa prosedur keamanan yang memadai.

Ledakan yang kembali terjadi akhir pekan lalu menjadi bukti bahwa ancaman peninggalan Perang Dunia II di Biak Numfor masih sangat nyata. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menyentuh, memindahkan, atau membongkar benda yang dicurigai sebagai bom, granat, maupun amunisi lainnya.

Apabila menemukan benda mencurigakan, warga diminta segera melaporkannya kepada aparat keamanan atau instansi terkait agar dapat ditangani sesuai prosedur keselamatan.

Tragedi yang kembali merenggut korban jiwa ini bukan hanya menjadi duka bagi masyarakat Biak Numfor, tetapi juga peringatan keras bahwa warisan perang yang terkubur puluhan tahun lalu masih menyimpan ancaman besar bagi generasi saat ini.

Pemerintah bersama instansi terkait diharapkan terus memperkuat upaya pendataan, identifikasi, dan pembersihan wilayah yang diduga masih menyimpan bahan peledak aktif guna mencegah jatuhnya korban di masa mendatang.

Laporan: Sonny Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *