Foto: Willy / Kepala Distrik Mamberamo Tengah Timur serahkan hasil Musrenbang kepada tim asistensi Bappeda
Kasonaweja, Jurnal Mamberamo Foja – Warga Distrik Mamberamo Tengah Timur (MTT), Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, masih menghadapi kesenjangan infrastruktur yang menghambat kehidupan mereka.
Kebutuhan akan rumah layak huni, jaringan telekomunikasi, dan akses air bersih terus disuarakan, tetapi hingga kini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Kepala Distrik Mamberamo Tengah Timur, Jefri Alle, S.IP, mengungkapkan bahwa setiap tahun pihaknya mengusulkan program prioritas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kabupaten. Namun, usulan tersebut kerap tak diakomodir.
“Setiap tahun kami menyampaikan usulan terkait kebutuhan mendesak masyarakat, tetapi tidak ada tindak lanjut. Kami berharap pemerintahan yang baru dapat merealisasikan kebutuhan utama, seperti rumah layak huni, jaringan telekomunikasi, dan air bersih,” ujar Jefri Alle.

Krisis di Sektor Kesehatan dan Pendidikan
Tak hanya infrastruktur dasar, layanan kesehatan dan pendidikan di distrik ini juga berada dalam kondisi memprihatinkan.
Sejumlah fasilitas, seperti puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), serta sekolah dasar dan menengah, mengalami kerusakan parah.
“Fasilitas kesehatan dan pendidikan di sini sudah tidak layak. Tenaga kesehatan dan guru pun sering tidak berada di tempat tugas. Kami sangat berharap pemerintah daerah segera turun tangan,” tegas Jefri.

DPRD Berjanji Mengawal Aspirasi Masyarakat
Menanggapi kondisi ini, salah satu anggota DPRD Kabupaten Mamberamo Raya terpilih periode 2025–2030, Obed Korukweri, berjanji akan mengawal setiap program yang telah diusulkan masyarakat.
“Setelah pelantikan pada Mei nanti, saya akan menggunakan kapasitas saya sebagai anggota dewan untuk memastikan program-program ini dijalankan. Ini sudah menjadi bagian dari janji politik kami kepada masyarakat,” ujar Obed, yang merupakan politisi Partai Gerindra.
Akses Transportasi Masih Jadi Tantangan
Mamberamo Tengah Timur terdiri dari tujuh kampung, yaitu Kustra, Obogoi, Wakeyadi, Noyadi, Biri, Heri, dan Towao.
Jarak tempuh ke distrik ini menjadi tantangan tersendiri, di mana satu-satunya akses transportasi adalah melalui jalur sungai menggunakan speedboat, dengan waktu tempuh sekitar delapan jam dari ibu kota kabupaten.
Kondisi ini semakin memperburuk keterisolasian wilayah, sehingga pembangunan infrastruktur dasar menjadi kebutuhan mendesak.
Warga berharap janji pemerintah daerah dan perwakilan rakyat kali ini benar-benar diwujudkan, bukan sekadar wacana di meja musyawarah.
Laporan: Willy
















