Foto: Irfan | Tampak Penanaman 1.000 Pohon Sagu dininisiasi GKI Klasis Sentani, di Kampung Ifale, Senin (30/3).
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua melalui Klasis Sentani memulai langkah konkret dalam menjaga lingkungan dengan mencanangkan penanaman 1.000 pohon sagu di Kampung Ifale, Kabupaten Jayapura, Senin (30/3/2026).
Gerakan ini merupakan bagian dari tema pelayanan GKI tahun 2026 yang dicanangkan sebagai “tahun kepedulian”, yang tidak hanya menyasar aspek sosial, tetapi juga lingkungan hidup.
Ketua Badan Pekerja Klasis GKI Sentani, Pdt. Albert Suebu, S.Si., menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dalam menjaga ciptaan Tuhan, termasuk alam.
“Di tahun kepedulian ini, kami tidak hanya berbicara soal pelayanan kepada manusia, tetapi juga terhadap lingkungan yang semakin terancam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gerakan ini tidak hanya dilakukan di Klasis Sentani yang membawahi 53 jemaat, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama GKI di seluruh Tanah Papua yang mencakup 70 klasis dan lebih dari 2.000 gereja.
Baca juga: Sampah dan Drainase Jadi Biang Luapan, GKI Sentani Ajak Jemaat Bertindak
Program penanaman sagu ini merupakan tindak lanjut dari hasil Rapat Kerja Klasis Sentani pada Desember 2025, yang kemudian direalisasikan melalui kolaborasi lintas pihak, mulai dari pemerintah daerah, Forkopimda, hingga organisasi peduli lingkungan.
Penanaman tahap awal dilakukan di Kampung Ifale dengan melibatkan persekutuan kaum bapak, dengan lokasi yang membentang hingga tiga kilometer di kawasan pinggiran Danau Sentani.
“Bibit sudah tersedia dan lahan juga telah disiapkan oleh masyarakat adat setempat,” kata Albert.
Lahan seluas kurang lebih 500 hektare untuk program ini disediakan oleh Ondofolo Kampung Ifale sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian lingkungan.
Albert menekankan bahwa sagu memiliki peran penting, tidak hanya sebagai sumber pangan lokal, tetapi juga sebagai penyangga ekosistem, khususnya dalam menjaga keseimbangan air di kawasan Danau Sentani.
Ia mengingatkan, berkurangnya pohon sagu akibat penebangan yang tidak terkendali telah berdampak pada menurunnya daya serap air, yang berpotensi memicu banjir.
“Sagu itu menjaga air. Kalau terus ditebang tanpa kontrol, dampaknya akan kembali ke kita,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Jayapura untuk memanfaatkan lahan kosong dengan menanam sagu sebagai investasi lingkungan jangka panjang.
Sebagai bentuk komitmen, GKI Sentani juga akan menerapkan aturan internal, di mana setiap satu pohon sagu yang ditebang wajib diganti dengan lima anakan sagu.
“Aturan ini akan terus kami sosialisasikan agar menjadi kebiasaan bersama,” ujarnya.
Langkah ini diharapkan menjadi awal dari gerakan berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan ketahanan pangan di Papua.
Laporan: M. Irfan

















