Foto: istimewa | Nampak Gembala Dr. A.G. Socrarez Yoman.

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Indonesia dinilai tengah menghadapi ancaman serius terhadap keutuhan bangsa. Ancaman itu tidak semata datang dari kelompok bersenjata, melainkan justru lahir dari dalam sistem kekuasaan sendiri.
Pandangan tersebut disampaikan Gembala Dr. A.G. Socrarez Yoman dalam sebuah opini yang ditulis di Ita Wakhu Purom, 12 Januari 2026. Ia menyebut ancaman tersebut bersumber dari apa yang ia istilahkan sebagai “Kelompok Kriminal Berdasi”, yakni elite dan aktor negara yang menyalahgunakan kekuasaan.
Menurut Dr. Yoman, praktik kekuasaan yang menyimpang itu telah melahirkan benih-benih separatisme di berbagai wilayah Indonesia. Ketidakadilan struktural, hukum yang timpang, serta kekerasan negara menjadi pemicu utama runtuhnya kepercayaan rakyat terhadap negara.
Ia menegaskan, ketika negara gagal menghadirkan keadilan, maka rasa memiliki terhadap bangsa perlahan terkikis.

Delapan Benih Separatisme
Dalam opininya, Dr. Yoman menguraikan delapan bibit separatisme yang menurutnya terus tumbuh dan mengancam persatuan nasional.
Pertama, korupsi yang merajalela dan para pelakunya kebal hukum. Korupsi disebutnya sebagai kanker bangsa yang melumpuhkan sendi kehidupan negara.
Kedua, kekerasan aparat keamanan yang terus meningkat dan memperlebar jarak antara negara dan rakyat.
Ketiga, kemiskinan struktural yang kian tajam, di mana kesenjangan sosial semakin menganga.
Keempat, hukum yang kehilangan wibawa, mudah diperjualbelikan, dan tidak lagi berpihak pada keadilan.
Kelima, pembatasan kebebasan beribadah, terutama terhadap kelompok minoritas, termasuk penutupan dan pempersulitan izin rumah ibadah.
Keenam, demokrasi yang tercederai, ketika suara rakyat dikalahkan oleh uang dan kepentingan elite.
Ketujuh, perampasan tanah rakyat, disertai intimidasi dan kekerasan, yang meminggirkan masyarakat adat dan komunitas lokal.
Kedelapan, rasisme yang berurat-akar, khususnya terhadap kelompok tertentu di wilayah pinggiran Indonesia.
Menurutnya, akumulasi persoalan tersebut tidak hanya menciptakan ketidakadilan, tetapi juga menjadi pupuk subur bagi lahirnya sikap
antipati terhadap negara.
Seruan Kepemimpinan Tegas
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Dr. Yoman menilai Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang berani dan tegas.
Ia membandingkan situasi Indonesia dengan kepemimpinan Zhu Rongji, mantan Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, yang dikenal keras dalam memberantas korupsi sejak menjabat sebagai Wali Kota Shanghai hingga Perdana Menteri China pada 1998–2003.
Ketegasan Zhu Rongji, termasuk kesediaannya mengambil risiko politik dan pribadi demi kepentingan negara, disebut sebagai simbol keberanian dalam penegakan hukum.
“Indonesia butuh pemimpin berani untuk menyelamatkan bangsa dari kehancuran,” tulis Dr. Yoman dalam opininya.
Di bagian akhir, ia mempertanyakan keseriusan dan komitmen para pemimpin nasional saat ini dalam memberantas korupsi dan ketidakadilan, bukan sekadar menjadikannya jargon politik.
Opini ini menjadi cerminan kegelisahan publik terhadap kondisi demokrasi, hukum, dan keadilan sosial di Indonesia, sekaligus ajakan reflektif tentang arah kepemimpinan dan masa depan bangsa.
Laporan: Sony Rumainum









