Dari Ruang Kelas ke Masa Depan Papua: Hardiknas Jadi Tamparan Keras di Tengah Gencarnya Pembangunan Fisik

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Victor M. Buefar, Stafsus Gubernur Papua

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi pidato dan slogan. Di Tanah Papua, momentum ini justru menjadi titik refleksi paling jujur: sudah sejauh mana pembangunan benar-benar menyentuh manusia Papua?

banner 325x300

Selama bertahun-tahun, wajah pembangunan di Papua lebih banyak ditandai dengan proyek fisik jalan, jembatan, dan gedung-gedung baru yang berdiri megah. Namun di balik itu, ada satu pertanyaan mendasar yang belum terjawab: apakah pembangunan tersebut sudah berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia?
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Di banyak wilayah, khususnya daerah terpencil, akses terhadap pendidikan layak masih terbatas. Kekurangan tenaga pengajar, fasilitas belajar yang minim, hingga ketimpangan kualitas pendidikan antara kota dan kampung menjadi potret yang belum berubah secara signifikan.

Padahal, sejarah telah memberi pelajaran berharga. Pasca tragedi Atomic bombings of Hiroshima and Nagasaki, Jepang berada dalam kondisi hancur total. Infrastruktur luluh lantak, ekonomi runtuh, dan jutaan rakyat terdampak. Namun di tengah kehancuran itu, para pemimpinnya justru mengajukan satu pertanyaan sederhana namun fundamental: “Berapa guru yang masih tersisa?”

Victor Michael Buefar, Stafsus Gubernur Papua
Victor Michael Buefar, Stafsus Gubernur Papua

Baca juga: Terima Mandat Caretaker GAMKI Sarmi, Victor Buefar Siap Konsolidasi Pemuda Kristen

Dari sana, arah kebijakan ditentukan. Pendidikan dijadikan prioritas utama. Mereka memahami bahwa membangun kembali bangsa tidak cukup dengan beton dan baja, tetapi harus dimulai dari membangun manusia. Hasilnya, Jepang bangkit dan menjelma menjadi salah satu negara maju di dunia.

Papua hari ini sebenarnya berada pada persimpangan yang serupa bukan dalam konteks kehancuran fisik, tetapi dalam tantangan besar membangun kualitas manusia di tengah kekayaan alam yang melimpah. Ironisnya, sumber daya alam yang besar belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, pendidikan harus ditempatkan sebagai prioritas utama, bukan sekadar pelengkap dalam agenda pembangunan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depan. Dari pendidikanlah lahir generasi yang mampu mengelola sumber daya, menjaga identitas, dan menentukan nasibnya sendiri.

Lebih dari itu, pendidikan juga merupakan alat paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan dan ketertinggalan. Tanpa pendidikan yang kuat, Papua akan terus berada dalam lingkaran persoalan yang sama: ketergantungan, kesenjangan, dan keterbatasan daya saing.

Sudah saatnya paradigma pembangunan di Papua digeser secara serius dari orientasi fisik menuju pembangunan manusia. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara lembaga pendidikan, tokoh agama, masyarakat adat, hingga organisasi sipil untuk memastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi gerakan bersama.

Setiap anak Papua, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak, bermutu, dan berkelanjutan baik mereka yang berada di pusat kota maupun di kampung-kampung terpencil. Tidak boleh ada lagi anak yang tertinggal hanya karena faktor geografis atau keterbatasan fasilitas.

Momentum Hardiknas ini harus menjadi alarm keras, sekaligus titik balik. Bahwa keberhasilan pembangunan Papua tidak akan diukur dari seberapa banyak infrastruktur yang dibangun, tetapi dari seberapa besar perubahan kualitas manusia yang dihasilkan.

Karena pada akhirnya, masa depan Papua tidak ditentukan oleh apa yang kita bangun hari ini, melainkan oleh siapa yang kita didik hari ini.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Mari membangun Papua dari ruang kelas, karena di sanalah masa depan itu benar-benar dimulai.

Ditulis oleh: Victor Michael Buefar

Laporan: Roy Hamadi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *