Ade Irma Suryani Safanpo Raih Gelar Doktor Lewat Disertasi tentang Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Jayapura

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Ade Irma Suryani saat berpose bersama para Promotor dan Tim Penguji dari Universitas Cendrawasih, di Jayapura, Kamis (5/6).

Jayapura, Jurnal Mamberamo Foja – Universitas Cenderawasih kembali melahirkan doktor baru di bidang ilmu sosial, khususnya kajian utama antropologi.

banner 325x300

Kali ini, giliran Ade Irma Suryani yang berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Mitigasi Bencana dalam Perspektif Masyarakat Adat Phuyaka dan Tepra di Kabupaten Jayapura”, dalam sidang promosi terbuka yang digelar pada Kamis, 5 Juni 2025, di Ballroom 2 Hotel Horison Kotaraja, Jayapura.

Ujian terbuka dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Cenderawasih, Dr. Oskar Oswald O. Wambrauw, SR., M.Sc.Agr., dan dihadiri oleh sembilan orang penguji dari berbagai latar belakang keilmuan, termasuk guru besar di bidang antropologi dan ilmu sosial.

Tim Promotor:

– Prof. Dr. Pawennari Hijjang, M.A. (Promotor Utama)
– Marlina Flassy, S.Sos., M.Hum., Ph.D. (Ko-Promotor I)
– Dr. Akhmad, M.Hum. (Ko-Promotor II)

Tim Penguji:

1. Prof. Dr. Mardi Adi Armin, S.Sos., M.Si.
2. Prof. Dr. Drs. Akbar Silo, M.S.
3. Prof. Frederik Sokoy, S.Sos., M.Si.
4. Dr. Simon Abdi K. Frank, M.Si.
5. Dr. Gerdha K. I. Numbery, S.Sos., M.Si.
6. J. R. Mansoben, M.A., Ph.D.

Dalam disertasinya, Ade Irma menyoroti bagaimana masyarakat adat Phuyaka (Gunung Merah Sentani) dan Tepra (Tabla) memiliki pendekatan tersendiri dalam menghadapi bencana alam, yang sangat berbeda dari pendekatan teknokratis modern. Ia menekankan bahwa mitigasi bencana dalam masyarakat adat tidak bisa dilepaskan dari kearifan lokal, spiritualitas, dan hubungan sakral mereka dengan alam.

“Masyarakat adat memandang bencana sebagai bentuk ketidakseimbangan hubungan antara manusia, lingkungan, dan kekuatan spiritual. Maka strategi mitigasi mereka tidak semata bersifat teknis, tapi juga sarat dengan nilai-nilai budaya dan ritual adat,” ungkap Ade Irma dalam wawancara seusai sidang.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat adat memanfaatkan pengetahuan lokal, seperti membaca tanda-tanda alamperubahan perilaku hewan, warna air, hingga fenomena langit sebagai sistem peringatan dini yang telah diwariskan turun-temurun.

Lebih lanjut, disertasi ini juga menyingkap pentingnya zona ekologis tradisional dan peran struktur adat seperti Ondoafi (kepala adat) dalam menjaga keseimbangan sosial dan ekologi. Ondoafi memainkan peran penting dalam menyampaikan informasi, menjaga solidaritas sosial, dan memastikan kepatuhan pada aturan adat dalam situasi darurat.

Namun, Ade Irma juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi. Modernisasi dan globalisasi, katanya, semakin menjauhkan generasi muda dari tradisi. Di sisi lain, kebijakan mitigasi bencana pemerintah dinilai masih belum sepenuhnya mengakomodasi perspektif lokal masyarakat adat.

“Ada kesenjangan antara kebijakan formal dan praktik lokal. Jika tidak segera dijembatani, maka upaya mitigasi bencana berbasis kearifan lokal ini akan terancam punah,” jelasnya.

Di akhir paparannya, Ade Irma menyerukan pentingnya integrasi pendekatan lokal dan modern dalam perencanaan mitigasi bencana. Kolaborasi yang saling menghargai antara masyarakat adat, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya diyakini akan menciptakan strategi mitigasi yang lebih efektif, berkelanjutan, dan diterima secara sosial.

Ade Irma Suryani, yang juga merupakan istri dari Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, berhasil meraih predikat cumlaude atas disertasi yang ia pertahankan dalam ujian promosi doktor tersebut.

Laporan: Sony

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *