Darurat Pendidikan di Mamberamo Raya: SDN Inpres Papasena I Lumpuh, Anak-anak Terancam Gagal Ujian

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa / Nampak Gedung Sekolah SDN Kampung Papasena 1 yang kosong lantaran tidak ada guru, (16/4).

Kasonaweja, Jurnal Mamberamo Foja – Di tengah gencarnya upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh penjuru negeri, kondisi sekolah dasar di Kampung Papasena, Kabupaten Mamberamo Raya, justru memperlihatkan potret darurat pendidikan yang mengkhawatirkan.

banner 325x300

SDN Inpres Papasena I dilaporkan tidak aktif sejak libur akhir tahun 2024 hingga pertengahan April 2025. Akibatnya, puluhan siswa terutama kelas VI, kini menghadapi ujian nasional tanpa bekal pembelajaran yang layak.

Kondisi ini menuai keprihatinan berbagai pihak, salah satunya datang dari tokoh intelektual Kampung Papasena, Barnabas Dude. Melalui sambungan telepon kepada Jurnal Mamberamo Foja pada Rabu (16/4), Barnabas menyampaikan kekhawatirannya bahwa ketidakhadiran guru dalam waktu lama tidak hanya merugikan anak-anak secara akademis, tetapi juga dapat berdampak jangka panjang terhadap masa depan mereka.

“Kami sangat kecewa. Anak-anak kami tidak mendapatkan haknya untuk belajar, sementara ujian sudah di depan mata,” ujar Dude.

“Bagaimana mungkin kita berharap generasi muda mampu mengelola kekayaan alam Mamberamo Raya jika sejak dini mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak? Anak-anak ini bukan sekadar butuh ijazah, mereka butuh kompetensi,” tegasnya.

Ia menilai, ketidaktegasan dinas terkait terhadap guru-guru yang lalai menjalankan tugas telah memperparah persoalan ini. Barnabas mendesak Dinas Pendidikan dan Pengajaran Mamberamo Raya untuk segera turun tangan menyelesaikan kekosongan tenaga pendidik di SDN Inpres Papasena I.

Lebih jauh, kasus ini mengungkap tantangan besar yang dihadapi dunia pendidikan di wilayah-wilayah terpencil. Jika sekolah yang berada tidak jauh dari ibu kota kabupaten saja bisa lumpuh seperti ini, bagaimana nasib sekolah-sekolah di pedalaman?

Masalah kekosongan guru bukan sekadar soal administrasi, melainkan menyangkut hak dasar anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Pemerintah daerah dituntut tidak hanya bereaksi sesaat, tetapi juga menyusun strategi jangka panjang demi pemerataan kualitas pendidikan.

Pendidikan adalah fondasi masa depan. Jika saat ini saja kita gagal memberi hak belajar kepada anak-anak di kampung seperti Papasena, kita sedang membiarkan mimpi dan potensi masa depan mereka perlahan memudar.

Laporan: Roy

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *