Foto: ilustrasi

Biak, jurnalmamberamofoja.com – Rencana pembangunan bandar antariksa nasional kembali menempatkan Biak, Papua, sebagai lokasi unggulan. Keunggulan geografis dan strategis wilayah ini dinilai memenuhi syarat ideal untuk peluncuran roket dan satelit.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan posisi Biak yang berada dekat garis khatulistiwa memberikan keuntungan besar dari sisi teknis peluncuran.
Peluncuran dari wilayah khatulistiwa membutuhkan energi dan bahan bakar lebih efisien. Faktor ini telah lama dimanfaatkan negara-negara maju dalam pengembangan teknologi antariksa mereka.
Selain efisiensi, Biak juga memiliki bentang alam terbuka dan berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik. Kondisi tersebut dinilai aman karena meminimalkan risiko jatuhnya sisa roket ke wilayah permukiman penduduk.
Dari perspektif strategis nasional, pembangunan bandar antariksa di Papua diyakini mampu memperkuat posisi Indonesia dalam peta keantariksaan global sekaligus menopang kedaulatan teknologi nasional.
Wacana pembangunan bandar antariksa Biak sejatinya telah bergulir sejak era Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), sebelum dilebur ke dalam BRIN.
Namun, keterbatasan infrastruktur, pembiayaan, serta kebijakan membuat realisasinya berjalan bertahap.
Pemerintah menegaskan, bandar antariksa Biak tidak hanya difungsikan sebagai lokasi peluncuran satelit. Kawasan ini juga dirancang menjadi pusat riset, inovasi, dan industri teknologi antariksa.
Keberadaannya diharapkan membuka lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, serta mempercepat proses alih teknologi di kawasan timur Indonesia.
Optimisme tersebut ditegaskan Arif Satria saat melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Sains M. Ibnoe Subroto, Rancabungur, Rabu (31/12/25).
Baca juga: Dari Perayaan Natal Nasional 2025, Prabowo Serukan Indonesia yang Rukun dan Harmonis
Ia menyebut target kemandirian teknologi antariksa nasional yang semula dipatok pada 2040 berpeluang direalisasikan lebih cepat.
“Kita tidak boleh setengah-setengah. Jika bisa sebelum 2040, mengapa tidak dipercepat,” tegas Arif.
Kunjungan tersebut juga membahas kesiapan fasilitas riset nasional, persiapan peluncuran Satelit A4, serta pengembangan bandar antariksa sebagai fondasi strategis masa depan Indonesia.
Laporan: Sonny Rumainum

















