Foto: istimewa | Tokoh masyarakat Pegunungan Papua Dr. Yunus Wonda, SH., MH.,
Sentani, Jurnal Mamberamo Foja – Tokoh masyarakat Pegunungan Papua, Dr. Yunus Wonda, mengecam keras pernyataan bernada rasis yang disampaikan oleh Kepala Daerah Kota Jayapura dalam sebuah video yang viral di media sosial. Dalam video tersebut, sang kepala daerah menyebut bahwa aksi pemalangan dan demonstrasi di Kota Jayapura dilakukan oleh warga asal Pegunungan.
“Sebagai pemimpin, tidak sepantasnya menyampaikan pernyataan yang memecah belah seperti itu. Seharusnya kepala daerah merangkul semua elemen masyarakat tanpa membeda-bedakan asal suku, agama, atau latar belakang,” ujar Yunus Wonda saat ditemui di Sentani, Rabu (18/6).
Menurut Wonda, pernyataan seperti itu sangat tidak etis, terutama jika disampaikan oleh seorang pejabat publik. Ia mengingatkan bahwa dalam kontestasi politik, semua kelompok suku dilibatkan untuk mendulang suara. Namun setelah menjabat, tidak boleh ada yang dilupakan atau diperlakukan berbeda.
“Kami masyarakat pegunungan juga bagian dari Provinsi Papua. Kami membangun, tinggal, membeli tanah, bahkan hidup berdampingan di kabupaten/kota mana pun kami berada. Tapi bukan berarti kami layak untuk direndahkan,” tegasnya.
YW yang sekarang menjabat sebagai Bupati Jayapura juga menyatakan bahwa selama masa kepemimpinan -nya, ia tidak pernah membeda-bedakan masyarakat berdasarkan asal usul, sejalan dengan moto “Kasih Menembus Perbedaan” yang diusung bersama wakilnya.
Yunus Wonda pun mengajak seluruh masyarakat Pegunungan untuk tidak terprovokasi, tetap menjaga persatuan, dan tidak terpecah oleh isu-isu yang mengarah pada rasisme.
“Pemimpin yang baik tidak boleh melabeli masyarakat sebagai ‘orang gunung’, ‘pesisir’, atau ‘pendatang’. Semua harus dirangkul. Bila ada protes atau demonstrasi, mari kita duduk dan bicara baik-baik. Selama ini, aksi mahasiswa dilakukan karena mereka merasa ada kebijakan yang tidak berpihak,” jelas politisi Partai Demokrat Papua itu.
Ia juga menekankan bahwa masyarakat pegunungan memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan Papua dan tidak patut dipandang sebelah mata.
“Kami punya harga diri. Kami bukan kelompok yang kecil atau kerdil. Jika kita mulai membuat sekat, maka kita sedang membuka ruang perpecahan. Negara ini berdiri untuk semua. Mari kembali pada nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika,” tutup mantan ketua DPR Papua tersebut.
Laporan: M. Irfan

















