SURAT TERBUKA: Ketua Umum Sinode GKI Berani Bicara Karena Benar

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Ketua Sinode GKI di Tanah Papua Pdt. Andrikus Mofu, M.Th beserta jajaran di kantor Sinode, Rabu (17/9).

banner 325x300

Kepada Yth. Ketua Umum Sinode GKI di Tanah Papua di Jayapura, Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Melalui surat terbuka ini, saya menyampaikan tanggapan atas pernyataan sikap Ketua Umum Sinode GKI di Tanah Papua terkait putusan Mahkamah Konstitusi dalam sengketa PSU Pilkada Gubernur Papua, 17 September 2025. Putusan itu memenangkan pasangan nomor urut 2, MDFAR dan menolak gugatan pasangan nomor urut 1, BTMCK.

Mengapresiasi Keberanian

Saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Ketua Umum Sinode GKI yang dengan tegas menyatakan, “Kami menyesal bergabung dengan Negara Indonesia.” Ucapan ini bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan akan tercatat sebagai bagian penting dari sejarah bangsa Papua.

Pernyataan ini mengingatkan kita pada pengakuan serupa dari mantan Gubernur Papua Barnabas Suebu, yang juga pernah mengungkapkan penyesalan bergabung dengan Indonesia setelah menghadapi putusan hukum.

Baca juga: Ketua Sinode GKI Papua Nyatakan Penyesalan Bergabung dengan NKRI, Desak Pemerintah Hentikan Ketidakadilan Politik

Membuka Tabir Sejarah

Keberanian Ketua Sinode GKI hari ini telah menyingkap kembali keputusan kontroversial yang dibuat oleh Ketua Sinode GKI pertama, Pdt. F. J. S. Rumainum, yang pada 1960-an memilih sikap bergabung dengan Indonesia. Sementara itu, para pemimpin gereja lain, khususnya para uskup, berjuang keras agar Papua dapat merdeka dan berdaulat.

Sikap penyesalan yang diutarakan hari ini menjadi semacam penebusan atas keputusan masa lalu yang menorehkan luka sejarah. Ini adalah langkah berani untuk mengungkap kebenaran yang selama ini ditutupi.

Pernyataan ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga komitmen nyata. Ketua Umum Sinode GKI menegaskan kesediaannya untuk berdiri bersama umat, konsisten memperjuangkan kerinduan bangsa Papua akan kemerdekaan, kedamaian, dan kesejahteraan.

Bagi umat, inilah suara yang telah lama dinantikan: suara gembala yang memilih bersama domba-dombanya, meski harus menanggung risiko besar.

Selaras dengan Nubuat Sejarah

Tidak bisa dianggap kebetulan, sikap ini muncul menjelang peringatan 100 tahun nubuat Pdt. Izaak Samuel Kijne (25 Oktober 1925 – 25 Oktober 2025) yang mengatakan:

“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”

Pernyataan Ketua Sinode GKI menjadi gema baru nubuat itu, sekaligus mempertegas harapan akan kebangkitan bangsa Papua.

Baca juga: MK Tegaskan Tidak Ada Pemilih Siluman, Gugatan Pilgub Papua Ditolak

Gereja Sebagai Benteng Terakhir

Sebagaimana pernah disampaikan Pdt. Dr. Benny Giay: “Gereja Papua adalah benteng pertahanan terakhir bagi umat jemaat bangsa Papua yang dikejar dan dikepung oleh Negara Indonesia.”

Kini, dengan sikap tegas Ketua Umum Sinode GKI, umat kembali mendapat kekuatan. Gereja hadir bukan hanya untuk melayani iman, tetapi juga memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan harapan sebuah Papua yang merdeka, damai, dan sejahtera.

Nabire, Kamis 18 September 2025

SELPIUS BOBII Koordinator JDRP2, Aktivis HAM, Eks Tapol Papua Ketua Umum Front PEPERA Papua Barat

Laporan: Sony Rum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *