Foto: istimewa | Tampak Petani Kopi bersama perwakilan PT. PLN Persero, sedang memperlihatkan kopi di Tiom, guna di olah dan dipasarkan ke luar daerah.
Lanny Jaya, jurnalmamberamofoja.com — Aroma kopi dari dataran tinggi Papua Pegunungan kini tak lagi sekadar dikenal lokal. Kopi Tiom, komoditas unggulan asal Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, mulai menembus pasar nasional dan menjadi penggerak baru ekonomi masyarakat setempat.
Perubahan ini tidak datang begitu saja. Melalui program pemberdayaan PT PLN (Persero), kualitas dan produktivitas Kopi Tiom mengalami peningkatan signifikan dalam waktu relatif singkat.
PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat (UIW PPB) secara konsisten melakukan pendampingan kepada kelompok tani, mulai dari teknik budidaya hingga pengolahan pascapanen. Salah satu terobosan penting adalah pembangunan dome pengering biji kopi yang mampu menjaga kualitas tanpa bergantung pada kondisi cuaca.
Jika sebelumnya proses pengeringan bisa memakan waktu hingga satu bulan, kini dapat dipangkas menjadi sekitar dua minggu. Dampaknya, risiko kerusakan hasil panen menurun drastis, sementara kualitas kopi menjadi lebih stabil dan bernilai jual tinggi.
Baca juga: Sepanjang 2025, Program PLN Peduli Jangkau 701 Ribu Penerima Manfaat
Ketua Kelompok Tani 1 Tiom, Moses Yigibalom, mengakui program tersebut membawa perubahan besar bagi para petani. Ia mengatakan, kekhawatiran terhadap hujan yang selama ini menjadi ancaman utama kini mulai teratasi.
“Dulu kami cemas setiap hujan turun karena kopi bisa rusak. Sekarang lebih aman. Kualitas terjaga, harga naik, bahkan penghasilan kami bisa meningkat sampai tiga kali lipat,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari Gubernur Papua Pegunungan, John Tabo. Ia menilai intervensi yang dilakukan PLN tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga memperkuat daya saing komoditas lokal di pasar yang lebih luas.
Menurutnya, Kopi Tiom merupakan identitas sekaligus potensi strategis daerah yang selama ini terkendala pada proses pascapanen akibat cuaca ekstrem. Kehadiran teknologi pengeringan dinilai menjadi solusi konkret untuk mendorong kemajuan sektor tersebut.
Di tingkat nasional, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa peran perusahaan kini tidak hanya sebatas penyedia listrik. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN berupaya menjadi penggerak ekonomi kerakyatan berbasis keberlanjutan.
“PLN ingin setiap program tidak hanya memberi bantuan, tetapi menciptakan nilai ekonomi nyata bagi masyarakat. Ini bagian dari upaya membangun pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Keberhasilan program ini turut mengantarkan PLN UIW PPB meraih penghargaan Platinum Alignment dalam ajang Nusantara CSR Awards 2026. Program tersebut dinilai mampu menghadirkan dampak ekonomi yang terukur, di mana setiap dana yang disalurkan mampu menghasilkan nilai manfaat berlipat bagi masyarakat.
General Manager PLN UIW Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, menegaskan komitmennya untuk terus memperluas dampak program tersebut. Ia berharap pemberdayaan ini dapat menjadi fondasi bagi kemandirian ekonomi masyarakat Papua, khususnya para petani kopi.
“Ini bukan program jangka pendek. Kami ingin menjadikannya sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat yang berkelanjutan,” katanya.
Dengan capaian tersebut, Kopi Tiom kini tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi dari wilayah pegunungan Papua yang mulai diperhitungkan di tingkat nasional.
Laporan: Sony Rumainum

















