Foto: istimewa | Tampak Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) DPD KNPI Papua M. Rusdianto, didampingi Ketua DPD KNPI Papua Benyamin Gurik, beserta kedua calon Ketua KNPI Kota Jayapura Barto Taniauw dan Novelt Krey di Jayapura, Sabtu (21/3).

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Konflik dualisme kepemimpinan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Jayapura akhirnya resmi berakhir. Rekonsiliasi ini ditandai dengan kesepakatan islah politik yang dicapai pasca Musyawarah Daerah (Musda) VI tahun 2026.
Penegasan tersebut disampaikan Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) DPD KNPI Papua, M. Rusdianto Abu, didampingi Ketua DPD KNPI Papua, Benyamin Gurik, dalam momentum perayaan Idul Fitri di kawasan Padang Bulan, Kota Jayapura, Sabtu (21/3/2026) malam.
Suasana kebersamaan itu menjadi simbol kuat bersatunya kembali elemen pemuda setelah melewati dinamika organisasi yang cukup panjang dan penuh perbedaan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPD KNPI Kota Jayapura Barto Barend Taniauw, Novel Krey, serta sejumlah perwakilan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang selama ini terlibat dalam dinamika KNPI di daerah itu.
Rusdianto menegaskan, islah politik bukan sekadar seremonial, melainkan langkah strategis untuk mengakhiri konflik melalui dialog, kesepakatan, dan semangat saling memaafkan.
“Ini bukan formalitas. Ini bentuk kedewasaan dalam berorganisasi. Dualisme sudah selesai, sekarang saatnya kita fokus membangun dan berkontribusi untuk masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemuda dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan. Menurutnya, penyatuan KNPI tidak lepas dari dorongan pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kota.
“Seluruh energi pemuda kini diarahkan untuk mendukung visi Papua Cerdas, Sejahtera, dan
Harmoni atau Papua Cerah,” ujarnya.
Baca juga: Musda KNPI Kota Jayapura Memanas, Pencopotan Caretaker Japsel Picu Tudingan Intervensi Politik
Sementara itu, Benyamin Gurik memastikan berakhirnya dualisme telah dikukuhkan dalam Musda penyatuan yang mempertemukan dua tokoh utama, Barto Barend Taniauw dan Novel Krey.
“Semua perbedaan sudah diselesaikan dalam Musda. Tidak ada lagi perpecahan. Kita kembali dalam satu barisan,” katanya.
Ia menilai momentum Idul Fitri menjadi ruang yang tepat untuk mempererat kembali hubungan antar pengurus dan anggota, sejalan dengan nilai kebersamaan dan saling memaafkan yang diusung dalam islah politik.
“Ini penegasan bahwa konflik telah selesai. Tidak ada lagi ketegangan di antara kita,” tambahnya.
Dengan berakhirnya dualisme ini, KNPI Kota Jayapura diharapkan tampil lebih solid dan progresif, serta mampu menjalankan perannya sebagai wadah pemersatu pemuda dan mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah.
Pemuda pun diharapkan menjadi motor penggerak perubahan, khususnya dalam mendukung pembangunan Papua yang lebih maju dan harmonis.
Laporan: Sonny Rumainum

















