Dari Luka Perbudakan ke Cahaya Iman: Jejak 118 Tahun Pekabaran Injil di Maudori–Supiori

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: ilustrator HUT PI ke 118 di Maudori – Supiori, 26 April 1908 – 26 April 2026

Supiori, jurnalmamberamofoja.com — Sejarah panjang pekabaran Injil di tanah Biak kembali dikenang. Tepat 118 tahun silam, pada 26 April 1908, cahaya iman mulai menerangi Kampung Maudori, Supiori, menandai babak baru perjalanan spiritual masyarakat setempat.

banner 325x300

Peristiwa bersejarah ini tidak terlepas dari sosok Petrus Kafiar, yang sebelumnya dikenal sebagai Noseni. Ia adalah anak dari Kepala Suku Urmbor, Sengadji Urmbor. Namun, setelah ayahnya wafat, hidup Noseni berubah drastis. Ia diculik dan dijual sebagai budak saat masih belia sebuah pengalaman pahit yang justru menjadi titik awal perjalanan imannya.

Takdir membawanya ke Pulau Mansinam, tempat ia ditebus oleh tukang kayu zending, David Keizer, dan kemudian dibimbing oleh pendeta J.L. van Hasselt. Pada 28 Oktober 1887, Noseni dibaptis dan menerima nama baru, Petrus Kafiar, sebagai simbol kehidupan baru dalam iman Kristen.

Dengan semangat belajar yang tinggi, Petrus melanjutkan pendidikan di Seminari Depok. Sekembalinya ke Papua, ia menjadi salah satu guru pertama bersama rekannya, Timotius Awendu, dalam upaya menyebarkan ajaran Injil.

Momentum penting terjadi pada 1908, ketika Petrus diutus oleh pendeta F.J.F. van Hasselt untuk kembali ke kampung halamannya di Maudori. Dalam perjalanan, mereka sempat singgah di Pulau Numfor yang kala itu dilanda bencana kelaparan akibat wabah ulat. Melalui doa bersama masyarakat, wabah tersebut berangsur hilang dan tanaman kembali pulih peristiwa yang diyakini sebagai mujizat oleh warga setempat.

Baca juga: Dari Yapil Okbab, Tugu Injil Ketengban Jadi Simbol Kebangkitan Iman

Setibanya di Maudori pada 26 April 1908, Petrus Kafiar dan F.J.F. van Hasselt untuk pertama kalinya mengabarkan Injil di tanah Biak. Sambutan masyarakat begitu terbuka. Bahkan, sebagai simbol perubahan keyakinan, patung-patung leluhur dibakar, dan kehidupan baru dalam ajaran Kristus mulai tumbuh.

Pendidikan menjadi bagian penting dari misi tersebut. Sekolah didirikan, dan nilai-nilai iman mulai diajarkan secara luas kepada generasi muda. Sejak saat itu, Injil berkembang pesat dan mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Petrus Kafiar mengabdikan hidupnya dalam pelayanan hingga akhir hayatnya pada 3 Agustus 1926. Kisah hidupnya menjadi refleksi bahwa penderitaan dapat bertransformasi menjadi panggilan mulia untuk melayani dan membawa terang bagi sesama.

Lebih dari satu abad berlalu, semangat tahun 1908 tetap hidup. Nama Petrus Kafiar dan F.J.F. van Hasselt dikenang sebagai pelopor yang menyalakan terang Injil di Maudori–Supiori bagi masyarakat Suku Biak.

Peringatan 118 tahun pekabaran Injil ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga meneguhkan nilai persatuan, pelayanan, dan harapan. Warisan iman yang ditanam dengan pengorbanan dan ketulusan para misionaris terus bertumbuh, menjadi cahaya bagi generasi masa kini dan mendatang.

Selamat memperingati 118 Tahun Pekabaran Injil di Maudori–Supiori.

Rilis: Franz Womper – Literasi Sejarah Budaya Suku
Biak

Laporan: Sony Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *