Foto: istimewa | Dr. Benhur Tomi Mano, MM., ketika berorasi di lembah Grimenawa, kemarin.
Sentani, Jurnal Mamberamo Foja — Orasi politik Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., yang disampaikan dalam kampanye terbuka di Lembah Grimenawa, Kabupaten Jayapura, menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Pasalnya, pernyataan BTM yang menggunakan istilah “babi hutan” dalam konteks menjaga wilayah adat ditafsirkan sebagian pihak sebagai bentuk sindiran atau serangan kepada pasangan calon lain, khususnya Matius D. Fakhiri – Aryoko Rumaropen (MDF-AR).
Dalam orasinya, BTM mengajak masyarakat adat untuk menjaga tanah dan rumah mereka agar tidak “dimasuki babi hutan”, sebuah analogi yang menurutnya mewakili filosofi masyarakat adat dalam menjaga wilayah dan hak ulayat dari ancaman eksternal.
“Saya minta para Ondoafi pagar rumah ini. Tidak boleh ada babi hutan masuk ke rumah ini. Tombak dia, bunuh dia, demi untuk iparnya duduk menjadi Gubernur Papua,” ujar BTM, yang juga dikenal sebagai mantan Wali Kota Jayapura dua periode dan Ketua DPD PDIP Papua.
Pernyataan tersebut sontak menjadi kontroversial setelah potongan video orasi beredar luas di media sosial. Banyak warganet menilai BTM menyudutkan pasangan calon tertentu, bahkan dianggap menggunakan ujaran bernada diskriminatif.
Namun, pihak BTM melalui sejumlah pendukung dan relawan menegaskan bahwa pernyataan itu seharusnya tidak dipahami secara harfiah atau politis, melainkan sebagai bagian dari filosofi hidup masyarakat adat yang biasa digunakan dalam komunikasi budaya di Papua, khususnya di wilayah Tabi-Saireri.
“Pernyataan itu adalah bagian dari filosofi lokal. Istilah ‘babi hutan’ diartikan sebagai ancaman terhadap ketertiban dan kedaulatan wilayah adat, bukan mengarah pada sosok atau kelompok tertentu,” ujar salah satu tokoh adat pendukung BTM yang enggan disebutkan namanya.
Ditegaskan pula bahwa kata-kata tersebut mencerminkan nilai-nilai turun-temurun masyarakat adat yang memandang tanah dan kebun sebagai simbol harga diri. Dalam hal ini, menjaga kebun dari babi hutan dimaknai sebagai menjaga wilayah dari pihak-pihak yang merusak atau mengacaukan tatanan adat.
Dalam orasi yang sama, BTM menyampaikan komitmennya jika terpilih sebagai Gubernur Papua. Salah satu janji politiknya adalah menjadikan Lembah Grimenawa sebagai daerah otonom baru (DOB), karena dinilai sudah memenuhi syarat dari segi wilayah, jumlah penduduk, hingga potensi sumber daya alam.
“Saya orang pemerintahan. Saya sudah kaji potensi Grimenawa dan ini layak jadi kabupaten sendiri. Itu komitmen saya untuk daerah ini,” tegasnya.
BTM juga menggarisbawahi pentingnya pelayanan dasar seperti pendidikan gratis, layanan kesehatan gratis, dan pembangunan infrastruktur, sebagai wujud konkrit dari semboyan “kamulah yang harus memberi mereka makan”, merujuk pada nilai-nilai Kristiani dalam memimpin dengan hati.
Dalam penutupannya, BTM kembali menekankan bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat adat Tabi, bukan orang luar. “Saya anak Tabi. Saya ambil istri dari sini. Rumah ini harus kita jaga, tidak boleh dikasih orang lain,” pungkasnya disambut riuh tepuk tangan warga.
Laporan: Roy

















