Pesta Adat Mandohi: Tradisi, Politik, dan Aspirasi Masyarakat Ambai

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa / Nampak Forum Masyarakat Adat Ambai (FMAA) di kediaman Ariyoko Rumaropen, (14/3).

Jayapura, Jurnal Mamberamo Foja – Pesta adat Mandohi yang digelar oleh masyarakat Ambai Serui di kediaman Ariyoko Rumaropen di Skyland, Jayapura Selatan, pada Jumat (14/3/2025), bukan sekadar seremoni budaya.

banner 325x300

Acara ini menjadi momentum penting bagi komunitas Ambai untuk memperkuat ikatan kekerabatan, membentuk wadah komunikasi, sekaligus menyuarakan aspirasi politik mereka.

Sebagai bagian dari prosesi adat, keluarga Numberi menyelenggarakan Mandohi, sebuah tradisi penghormatan di mana saudara laki-laki membalas kebaikan saudara perempuannya.

Namun, di balik kemeriahan acara, ada narasi lain yang berkembang—kekecewaan terhadap dinamika politik Pilkada Papua 2025, khususnya terkait pencalonan Velix Wanggai.

Pembentukan Forum Masyarakat Adat Ambai

Dalam acara tersebut, Sekretaris Forum Masyarakat Adat Ambai (FMAA), Hendry Muabuai, mengungkapkan bahwa selain merayakan adat, mereka juga meresmikan pembentukan FMAA sebagai wadah diskusi dan penyelesaian masalah bagi masyarakat Ambai di Papua.

“Forum ini hadir sebagai ruang komunikasi bagi orang Ambai. Kami ingin memastikan aspirasi kami didengar, baik dalam aspek budaya maupun politik,” ujar Hendry.

Terkait pemilihan lokasi acara di rumah Ariyoko Rumaropen yang juga kandidat Wakil Gubernur Papua Hendry menjelaskan bahwa hal ini terjadi secara alami, mengingat banyak masyarakat Ambai yang hadir memiliki kesamaan visi.

Kekecewaan Terhadap Dinamika Politik

Salah satu isu utama yang mencuat dalam diskusi masyarakat Ambai adalah keputusan yang dianggap merugikan Velix Wanggai dalam pencalonan Pilkada Papua 2025.

Hendry menyebutkan bahwa masyarakat merasa “ditipu” oleh pihak yang sebelumnya memberi harapan, tetapi kemudian menolak pencalonan Velix dengan alasan aturan keaslian Orang Asli Papua (OAP).

“Kami sangat kecewa dengan keputusan ini. Padahal, ada pernyataan dari anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) yang menyatakan bahwa kategori OAP mencakup mereka yang memiliki ayah asli Papua. Velix Wanggai adalah anak adat Ambai, dan ayahnya adalah tokoh Ambai di Jayapura,” tegas Hendry.

Kekecewaan ini pun menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat Ambai kemudian mengalihkan dukungan kepada Ariyoko Rumaropen, yang memiliki ikatan keluarga dengan komunitas mereka.

Dukungan untuk Ariyoko Rumaropen

Berangkat dari peristiwa ini, mayoritas masyarakat Ambai menyatakan sikap untuk mendukung Ariyoko Rumaropen sebagai calon Wakil Gubernur Papua mendampingi Mathius Fakhiri dalam Pilkada Papua 2025-2030.

“Ini bukan hanya soal politik, tetapi juga tentang menjaga harga diri komunitas kami. Kami ingin pemimpin yang benar-benar memahami aspirasi masyarakat Ambai dan masyarakat Papua secara umum,” ungkap Hendry.

Merespons dukungan ini, Ariyoko Rumaropen mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Ambai yang hadir dan memberikan dukungan kepadanya.

“Saya bersyukur dan berterima kasih kepada ipar, mama mantu, bapa mantu, kaka, ade, serta seluruh keluarga besar Ambai yang telah mendukung saya. Semoga Tuhan memberkati kita semua,” ujar Ariyoko.

Tradisi, Identitas, dan Masa Depan Politik Papua

Pesta adat Mandohi kali ini bukan hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga ruang ekspresi politik bagi masyarakat Ambai.

Keputusan mendukung Ariyoko Rumaropen menunjukkan bagaimana komunitas adat semakin berperan aktif dalam dinamika politik lokal.

Dengan adanya FMAA sebagai wadah komunikasi, masyarakat Ambai berharap dapat lebih solid dalam memperjuangkan kepentingan mereka di masa depan, baik dalam aspek sosial, budaya, maupun politik.

Laporan: Andre Fon

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *