Foto: istimewa | Tampak pelayaran Kapal Frans Johannes Frederik (F.J.F) Van Hasselt di perairan Teluk Doreri, Tanah Papua.
Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Selembar foto tua yang diabadikan pada tahun 1903 di Pelabuhan Manokwari menjadi saksi bisu perjalanan panjang pelayanan gereja di Tanah Papua. Di dalam gambar itu tampak beberapa anak Papua mendayung sebuah perahu kecil di perairan Teluk Doreri, sementara di kejauhan kapal Bensbach berlabuh tenang.
Meski terlihat sederhana, foto tersebut menyimpan kisah berharga tentang pengabdian seorang misionaris Protestan yang mendedikasikan hidupnya bagi masyarakat Papua, Frans Johannes Frederik (F.J.F.) van Hasselt.
Foto bersejarah itu diambil oleh tim yang mengikuti Ekspedisi Nugini Utara di bawah pimpinan ahli geologi Jerman Arthur Wichmann. Dokumentasi tersebut bukan hanya merekam bentang alam Papua pada awal abad ke-20, tetapi juga memperlihatkan kehidupan masyarakat setempat dan para pelayan gereja yang turut membangun fondasi perkembangan sosial, pendidikan, dan kerohanian di wilayah ini.
F.J.F. van Hasselt lahir pada tahun 1870 dan merupakan putra dari Pendeta Johannes Lodewijk van Hasselt, salah satu tokoh penting dalam sejarah pekabaran Injil di Papua bersama Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler.
Tumbuh di tengah lingkungan pelayanan membuat Van Hasselt muda memilih melanjutkan jejak keluarganya dengan bergabung dalam pelayanan misi pada tahun 1894.
Sejak saat itu, hidupnya nyaris tak pernah terpisah dari Papua. Selama lebih dari 40 tahun, ia melayani di berbagai daerah, mulai dari Manokwari, Biak, Numfor, Raja Ampat, Pegunungan Arfak hingga Teluk Humboldt yang kini dikenal sebagai Kota Jayapura. Perjalanannya menembus lautan, pulau-pulau kecil, hingga wilayah pedalaman yang saat itu masih sulit dijangkau.
Namun pelayanan Van Hasselt tidak hanya berfokus pada pemberitaan Injil. Ia dikenal sebagai sosok yang berusaha memahami kehidupan masyarakat Papua secara mendalam.
Ia mempelajari bahasa-bahasa lokal, mencatat berbagai tradisi, serta mendokumen-tasikan kebudayaan yang ditemuinya selama bertugas. Upaya tersebut menjadikan dirinya bukan sekadar pelayan gereja, tetapi juga pencatat sejarah dan budaya Papua pada masa awal perkembangan wilayah ini.
Kedekatan Van Hasselt dengan masyarakat Papua tergambar jelas dalam foto tahun 1903 tersebut. Perahu kecil miliknya yang dikemudikan oleh anak-anak Papua memperlihatkan hubungan yang terjalin secara alami dalam kehidupan sehari-hari.
Pelayanan pada masa itu tidak hanya dilakukan dari balik mimbar gereja, melainkan melalui kebersamaan, pendampingan, pendidikan, dan pembinaan generasi muda di tengah masyarakat.
Baca juga: Satu Abad Nubuatan IS Kijne: Seratus Tahun Terang Injil Menyinari Tanah Papua
Keberadaan kapal Bensbach yang tampak di latar belakang foto juga menunjukkan bagaimana Papua mulai terhubung dengan dunia luar pada masa itu.
Manokwari saat itu berkembang sebagai salah satu pusat pemerintahan dan pelayanan penting di pesisir utara Nieuw Guinea.
Aktivitas pelayaran menjadi jalur utama yang menghubungkan berbagai wilayah sekaligus membuka akses bagi kegiatan penelitian dan pelayanan.
Ekspedisi yang dipimpin Arthur Wichmann sendiri memiliki arti penting dalam sejarah Papua. Selain melakukan penelitian geologi dan eksplorasi wilayah, ekspedisi tersebut menghasilkan dokumentasi yang sangat berharga mengenai kehidupan masyarakat Papua pada awal abad ke-20.
Hasil penelitian itu kemudian diterbitkan dalam seri Nova Guinea yang hingga kini masih menjadi rujukan penting bagi para peneliti sejarah, antropologi, dan kebudayaan Papua.
Berbeda dengan gambaran umum tentang misionaris yang hanya berkhotbah di gereja, Van Hasselt dikenal aktif menjelajahi kampung-kampung dan pulau-pulau yang tersebar di seluruh wilayah pelayanan.
Ia menempuh perjalanan panjang melalui laut, menyusuri pesisir, hingga mengunjungi daerah pedalaman untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Catatan etnografi dan dokumentasi budaya yang dihimpunnya kemudian memberikan kontribusi besar terhadap kajian antropologi Papua.
Baca juga: Dari Luka Perbudakan ke Cahaya Iman: Jejak 118 Tahun Pekabaran Injil di Maudori–Supiori
Lebih dari satu abad telah berlalu sejak foto tersebut diabadikan. Namun gambar sederhana yang memperlihatkan seorang misionaris, perahu kecil, dan anak-anak Papua yang mendayung di perairan Manokwari tetap menjadi pengingat tentang sebuah pengabdian yang tulus.
Kisah F.J.F. van Hasselt menunjukkan bahwa perubahan besar sering lahir dari kesetiaan dalam pelayanan, ketekunan dalam bekerja, dan kedekatan yang dibangun bersama masyarakat.
Jejak yang ditinggalkannya tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan sosial dan budaya masyarakat Papua yang terus dikenang hingga hari ini.
Keterangan Foto: Perahu kecil milik misionaris Protestan F.J.F. van Hasselt yang dikemudikan oleh anak-anak Papua, dengan kapal Bensbach berlabuh di Pelabuhan Manokwari. Foto diambil pada tahun 1903 dalam rangka Ekspedisi Nugini Utara yang dipimpin ahli geologi Jerman Arthur Wichmann.
Sumber Dokumentasi Sejarah: Manfasfas Mnu Doiadori-Mansoben, Sup Mnuk Sauyas (Supiori, Papua).
Laporan: Sony Rumainum.

















