Dari Persahabatan BTM-KDM hingga Lagu “Surga di Tanah Papua”, Kisah yang Kembali Menggema di APS 2026

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Gubernur Dedi Mulyadi disambut dengan pengalungan simbol Adat oleh Benhur Tomi Mano (BTM) di Jayapura. 

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Hubungan persahabatan antara tokoh Papua, Benhur Tomi Mano (BTM), dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), kembali menjadi perhatian publik dalam gelaran Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS) 2026 di Jayapura.

banner 325x300

Momen itu mencuat saat Dedi Mulyadi memberikan sambutan pada pembukaan konferensi, Jumat (29/5). Dalam pidatonya, KDM mengungkap kisah di balik lahirnya lagu berjudul “Surga di Tanah Papua“, sebuah lagu yang kini kembali ramai diperbincangkan karena sarat pesan tentang keindahan alam, budaya, dan masa depan Papua.

Dedi Mulyadi mengenang saat pertama kali memperdengarkan lagu tersebut kepada Benhur Tomi Mano yang ketika itu masih menjabat sebagai Wali Kota Jayapura. Menurutnya, BTM begitu terharu mendengar syair lagu yang menggambarkan Papua sebagai tanah kehidupan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Saat mendengar lagu itu, Pak Benhur sangat tersentuh. Sebagai bentuk penghargaan kepada penyanyi yang membawakannya, beliau bahkan memberikan apresiasi sebesar Rp50 juta,” ungkap Dedi Mulyadi di hadapan peserta konferensi.

Kisah tersebut kembali mengingatkan publik pada hubungan erat yang telah terjalin antara kedua tokoh sejak bertemu di Kota Jayapura pada tahun 2016 ketika sama-sama menjabat sebagai kepala daerah.

Pertemuan itu bukan sekadar agenda pemerintahan biasa. Dari berbagai diskusi yang mereka lakukan, lahir pandangan bersama tentang pentingnya membangun Papua dengan menghormati nilai-nilai adat, budaya, dan kearifan lokal yang selama ini menjadi identitas masyarakat Papua.

Bagi BTM, Papua bukan hanya wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Papua adalah tanah kehidupan yang menyimpan kekayaan budaya, keberagaman suku, bahasa, dan tradisi yang harus terus dijaga.

“Papua adalah mama yang selalu memberi kehidupan kepada anak-anaknya,” demikian filosofi yang kerap disampaikan BTM dalam berbagai kesempatan.

Baca juga: Bukan Sekedar Cinderamata, Replika Rumah Pohon Korowai Bawa Amanat Besar untuk Pemimpin Bangsa

Menurutnya, tanah Papua harus diperlakukan dengan penuh penghormatan karena menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang telah menjaganya secara turun-temurun.

Pandangan serupa juga sering diungkapkan Dedi Mulyadi. Ia menyebut Papua sebagai salah satu anugerah terbesar yang dimiliki Indonesia. Baginya, Papua merupakan “surga” yang tidak hanya indah secara alamiah, tetapi juga kaya akan nilai kemanusiaan dan budaya.

Pesan itulah yang kemudian dituangkan dalam lagu “Surga di Tanah Papua”. Lagu tersebut menjadi simbol rasa syukur atas karunia Tuhan sekaligus pesan persaudaraan antara Papua dan seluruh daerah di Indonesia.

Melalui liriknya, masyarakat diajak untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan, pelestarian alam, penghormatan terhadap budaya, dan perlindungan hak-hak masyarakat adat.

Bagi BTM, makna lagu tersebut jauh lebih besar daripada sekadar karya seni. Ia menilai pesan yang terkandung di dalamnya harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui perlindungan hutan, pelestarian wilayah adat, peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan generasi muda, serta pembangunan yang berpihak kepada masyarakat Papua.

“Papua adalah warisan yang sangat berharga. Kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam, budaya, dan masyarakatnya agar tetap lestari bagi anak cucu kita nanti,” tegas BTM.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, dan generasi muda untuk bersama-sama menjaga Papua sebagai tanah kehidupan yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Kembali mencuatnya lagu “Surga di Tanah Papua” dalam forum APS 2026 menunjukkan bahwa persahabatan antara Benhur Tomi Mano dan Dedi Mulyadi tidak hanya terbangun melalui hubungan personal, tetapi juga melalui kesamaan pandangan tentang pentingnya menjaga Papua sebagai rumah besar yang kaya akan alam, budaya, dan nilai kemanusiaan.

Di tengah derasnya arus pembangunan, keduanya mengingatkan bahwa Papua bukan sekadar wilayah geografis, melainkan warisan kehidupan yang harus dihormati, dijaga, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai surga yang tetap lestari.

Laporan: Sonny Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *