Bukan Sekedar Cinderamata, Replika Rumah Pohon Korowai Bawa Amanat Besar untuk Pemimpin Bangsa

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: Sony| Tampak Kang Dedi Mulyadi (KDM) Gubernur Jawa Barat menerima replika rumah pohon suku Korowai, dari Laus Rumayom, ketika menjadi narasumber dalam acara konfrensi tahunan Analisis Papua Strategis (APS) di Jayapura, Jumat (29/5). 

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Sebuah pesan kuat dari jantung hutan Papua mewarnai pelaksanaan Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS) III yang di gagas oleh Laus Rumayom, berlangsung di Jayapura, Jumat (29/5/2026).

banner 325x300

Bukan sekadar cenderamata, masyarakat adat Korowai dari Kabupaten Boven Digoel menyerahkan replika rumah pohon khas mereka kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sebagai simbol harapan untuk masa depan hutan Indonesia.

Penyerahan replika rumah pohon Korowai tersebut menjadi salah satu momen yang menyita perhatian peserta konferensi. Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kelestarian alam sekaligus menghormati keberadaan masyarakat adat yang selama berabad-abad hidup selaras dengan lingkungan.

Bagi masyarakat Korowai, rumah pohon bukan hanya tempat berlindung. Bangunan yang berdiri tinggi di atas pepohonan itu merupakan simbol identitas budaya, ruang hidup, sekaligus representasi hubungan harmonis antara manusia dan alam. Hutan menjadi sumber kehidupan yang menyediakan pangan, obat-obatan tradisional, hingga warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Perwakilan Pemerintah Kabupaten Boven Digoel, Franky, menjelaskan bahwa replika rumah pohon tersebut membawa pesan khusus yang dititipkan masyarakat adat Korowai kepada para pemimpin bangsa.

“Rumah pohon Korowai adalah simbol kehidupan masyarakat adat yang sangat bergantung pada hutan. Melalui replika ini, masyarakat berharap lahir pemimpin-pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap alam serta mampu menjaga warisan Tuhan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Galeri Mama Papua di Jayapura
Tampak Kang Dedi Mulyadi ketika mengunjungi UKM Galeri Mama Papua di Jayapura

Baca juga: Film “Pesta Babi” Disorot Dunia Internasional, Isu Papua Kembali Jadi Perhatian Global

Menurut Franky, keberadaan hutan bagi masyarakat Korowai tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi rumah, identitas budaya, sumber penghidupan, dan masa depan anak cucu mereka.

Karena itu, pembangunan yang dilakukan di Papua diharapkan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem serta hak-hak masyarakat adat yang hidup di dalam dan sekitar kawasan hutan.

Pesan tersebut sekaligus mencerminkan harapan besar masyarakat adat Papua agar pembangunan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik semata. Mereka menginginkan pembangunan yang mampu berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan, perlindungan hak masyarakat adat, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal.

Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar bentang alam yang menyimpan kekayaan sumber daya. Hutan merupakan ruang hidup yang menopang keberlangsungan budaya dan tradisi masyarakat adat. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan, mempertahankan identitas budaya, dan melindungi masa depan generasi mendatang.

Menanggapi penghormatan tersebut, Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan masyarakat Korowai. Ia menegaskan bahwa pembangunan harus dilaksanakan dengan tetap menghormati kearifan lokal yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Menurutnya, masyarakat adat memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam. Pengetahuan tersebut menjadi modal penting dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.

“Pembangunan tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan alam dan budayanya. Justru kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat harus menjadi fondasi dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian lingkungan,” kata Dedi.

Momen penyerahan replika rumah pohon Korowai itu menjadi simbol bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya harus berjalan beriringan agar Indonesia mampu mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan tanpa kehilangan akar budaya dan kekayaan alamnya.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan yang terus berkembang, pesan dari masyarakat Korowai menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari banyaknya infrastruktur yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan menjaga hutan, menghormati budaya, dan melindungi masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga alam secara turun-temurun.

Laporan: Sony Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *