Foto: istimewa | Tampak Pdt. Nelson Kapitarau, S.Th., MM., Biro Personalia Sinode GKI di Tanah Papua usai memimpin ibadah syukuran 100 Tahun Pekabaran Injil di GKI Betel Waibron, Jumat (10/7).
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Peringatan satu abad pekabaran Injil di Lembah Moi, Kabupaten Jayapura, menjadi momentum penting bagi Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua untuk mengajak seluruh masyarakat membangun peradaban baru melalui pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Biro Personalia Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Dr. Nelson Kapitarau, S.Th., M.M., saat memimpin ibadah syukur 100 tahun pekabaran Injil di GKI Betel Waibron Banu, Jumat.
Dalam khotbahnya, Kapitarau menegaskan bahwa peringatan satu abad bukan sekadar mengenang perjalanan sejarah masuknya Injil di Tanah Papua, tetapi juga menjadi panggilan untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu dalam membangun masa depan Papua.
“Seratus tahun pertama adalah masa perjuangan para orang tua membawa Injil ke tanah ini. Seratus tahun kedua adalah tanggung jawab kita membangun peradaban baru bagi Papua melalui pendidikan dan iman,” ujarnya.
Ia menjelaskan sejarah pekabaran Injil di wilayah Tabi memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan daerah lain, masyarakat adat bersama para ondoafi justru berinisiatif mendatangi para guru Injil dan mengundang mereka datang melayani di kampung-kampung.
“Di wilayah Tabi bukan Injil yang mencari orang, tetapi masyarakat yang mencari guru Injil. Itu menunjukkan bahwa sejak awal masyarakat telah membuka diri terhadap Injil sekaligus pendidikan,” katanya.
Menurut Kapitarau, sejak pertama kali diberitakan, Injil dan pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya menjadi fondasi utama dalam membangun kehidupan masyarakat Papua hingga saat ini.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan abad kedua pekabaran Injil sebagai titik awal memperkuat kualitas sumber daya manusia Papua melalui pendidikan yang dilandasi iman kepada Tuhan.
Dalam kesempatan tersebut, Kapitarau juga mengajak jemaat membangun lima fondasi utama memasuki abad kedua pekabaran Injil, yakni menjadikan Firman Tuhan sebagai dasar kehidupan, membudayakan membaca Alkitab, memperkuat dunia pendidikan, menjaga warisan iman para pendahulu, serta membangun persatuan dan kebersamaan demi masa depan Papua.
Baca juga: Klasis Port Numbay Dipercaya Perkuat Misi GKI di Pedalaman dan Perbatasan Papua
Menurutnya, pendidikan merupakan investasi paling penting untuk melahirkan generasi Papua yang mampu bersaing tanpa meninggalkan nilai-nilai Kristiani.
“Kita bisa mengubah Papua melalui pendidikan. Orang harus pintar, tetapi kepintaran itu harus disertai rasa takut akan Tuhan,” tegasnya.
Ia mengajak pemerintah kampung, gereja, keluarga, lembaga pendidikan, hingga seluruh masyarakat untuk bersama-sama memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak-anak Papua.
“Kalau para orang tua dahulu berjuang membawa Injil ke tanah ini, maka tugas kita hari ini adalah memastikan setiap anak Papua memperoleh pendidikan yang layak. Dengan pendidikan yang dibangun di atas dasar Injil, kita sedang mempersiapkan masa depan Papua yang lebih maju, damai, dan bermartabat,” katanya.
Perayaan 100 tahun pekabaran Injil di Lembah Moi merupakan bagian dari rangkaian peringatan sejarah masuknya Injil di wilayah Tabi. Dari Waibron, benih pekabaran Injil kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai kampung hingga menjadi tonggak penting pertumbuhan gereja dan pendidikan di Tanah Papua.
Laporan: M. Irfan

















