Foto: istimewa | Nampak Marthen Medlama, S.Pd., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan Papua.
Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Pemerintah Provinsi Papua terus memperkuat investasi di sektor pendidikan melalui Program Beasiswa Pace (Pelajar Cerdas) dan Mace (Mahasiswa Cerdas). Untuk merealisasikan program tersebut, pemerintah memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai Rp60 miliar hingga Rp70 miliar setiap tahun, sekaligus membuka 1.000 kuota beasiswa bagi mahasiswa serta memperluas pembinaan calon peserta sekolah kedinasan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Marthen Medlama, S.Pd.,M.Si., mengatakan besaran anggaran tersebut masih dibahas bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) sebelum ditetapkan dalam APBD.
“Kami sudah beberapa kali melakukan pembahasan internal. Setelah final, akan dibahas bersama Bapperida agar program ini segera direalisasikan,” ujar Marthen Medlama di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Sesuai rilis yang diterima, Marthen juga meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat terkait Program Beasiswa Pace. Menurutnya, program tersebut tidak diberikan kepada seluruh siswa SMA di Papua, melainkan hanya bagi sekolah yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Papua.
Penerima Beasiswa Pace meliputi lima Sekolah Negeri Khusus (SNK) yang dikelola Pemerintah Provinsi Papua serta seluruh Sekolah Luar Biasa (SLB). Selain itu, program ini juga diberikan kepada pelajar berprestasi di bidang olahraga yang tetap mampu mempertahankan prestasi akademik.
“Anak-anak di SLB memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Karena itu mereka menjadi bagian dari program ini. Pemerintah juga ingin memastikan atlet-atlet muda Papua dapat fokus belajar sekaligus mengembangkan prestasi olahraga tanpa terkendala biaya pendidikan,” katanya.
Sementara itu, melalui Program Beasiswa Mace, Pemerintah Provinsi Papua menyiapkan 1.000 kuota bagi mahasiswa jenjang S1 dan S2. Seleksi dilakukan secara daring dengan mengedepankan prinsip transparansi, objektivitas, serta mempertimbangkan prestasi akademik dan kondisi ekonomi keluarga.
“Semua proses dilakukan secara online sehingga setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama. Tidak ada penunjukan langsung maupun perlakuan khusus,” tegasnya.
Selain beasiswa S1 dan S2, Program Mace juga mencakup beasiswa pendidikan dokter spesialis sesuai kebutuhan rumah sakit di Papua berdasarkan usulan Dinas Kesehatan, serta beasiswa doktor (S3) bagi dosen perguruan tinggi swasta Orang Asli Papua (OAP) sebagai upaya meningkatkan kualitas tenaga pengajar dan mutu pendidikan tinggi.
Pemerintah juga memastikan kuota beasiswa akan didistribusikan ke seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Papua agar manfaat program dapat dirasakan secara merata, tidak hanya terpusat di Kota Jayapura.
Di samping itu, bantuan penyelesaian studi bagi mahasiswa semester akhir juga disiapkan dengan proses verifikasi melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) agar penyalurannya tepat sasaran.
Tak hanya fokus pada program beasiswa, Dinas Pendidikan Provinsi Papua juga meningkatkan pembinaan bagi calon peserta sekolah kedinasan. Tingginya minat pelajar Papua mendorong pemerintah menambah kuota peserta pembinaan dari 30 orang menjadi 50 orang.
Marthen menegaskan seluruh proses seleksi dilakukan secara terbuka, objektif, dan bebas dari praktik titipan maupun intervensi.
“Tidak ada intervensi ataupun titipan. Semua peserta memiliki kesempatan yang sama berdasarkan kemampuan dan hasil seleksi,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kuota pembinaan sekolah kedinasan diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi putra-putri Papua untuk menembus berbagai sekolah kedinasan nasional.
Bersama Program Beasiswa Pace dan Mace, kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi Papua dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan siap menjadi penggerak pembangunan daerah di masa depan.
Laporan: Sony Rumainum

















