UNICEF Bekali Guru Papua Perkuat Layanan Kesehatan dan Gizi di Sekolah

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak suasana workshops dan pelatihan layanan gizi terpadu di Sekolah Champion Kota dan Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Rabu (8/7). 

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menggelar Workshop dan Pelatihan Layanan Gizi Terpadu bagi puluhan guru dari Kota dan Kabupaten Jayapura, Papua, sebagai upaya memperkuat layanan kesehatan dan gizi di lingkungan sekolah.

banner 325x300

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas guru agar mampu mengintegrasikan layanan kesehatan dan gizi di satuan pendidikan sekaligus mendukung pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis pada tahun ajaran baru.

Nutrition Officer UNICEF Papua, Dwi Kristanto, mengatakan peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA. Masing-masing sekolah mengirimkan wakil kepala sekolah dan penanggung jawab Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

“Kegiatan ini bertujuan memastikan guru memiliki keterampilan dalam melaksanakan layanan gizi di sekolah serta mendukung prioritas nasional melalui program cek kesehatan gratis,” ujar Dwi di Kota Jayapura, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, pelatihan tersebut mendapat dukungan dari China International Development Cooperation Agency (CIDCA) dan merupakan bagian dari program UNICEF yang telah berjalan hampir satu tahun di Papua. Program itu mencakup implementasi Makan Bergizi Gratis (MBG), edukasi gizi, hingga penguatan layanan kesehatan di sekolah.

Dwi menjelaskan, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah belum optimalnya koordinasi antara sekolah dengan puskesmas. Akibatnya, layanan kesehatan dan pendidikan sering berjalan sendiri tanpa sinergi yang baik.

Karena itu, UNICEF mendorong kolaborasi yang lebih erat agar sekolah dan puskesmas dapat bersama-sama memberikan layanan kesehatan bagi peserta didik. Menurutnya, peran guru tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga memastikan anak memperoleh layanan kesehatan yang memadai.

Layanan tersebut meliputi pemberian obat cacing bagi siswa SD, tablet tambah darah bagi pelajar SMP dan SMA, vitamin A untuk anak usia dini, hingga berbagai program kesehatan lainnya.

“Sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah. Karena itu, kualitas layanan kesehatan di sekolah sangat menentukan tumbuh kembang mereka. Semua anak berhak mendapatkan pendidikan sekaligus layanan kesehatan yang berkualitas,” katanya.

Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai sinkronisasi kebijakan nasional, daerah, dan satuan pendidikan, serta pentingnya kesehatan dan gizi bagi anak usia sekolah.

Sementara hari kedua diisi dengan simulasi dan praktik pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis di sekolah.

Pelatihan tersebut diikuti sekitar 50 hingga 60 peserta dari perwakilan PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA di Kota maupun Kabupaten Jayapura.

UNICEF berharap melalui kegiatan ini para guru semakin memahami pentingnya layanan kesehatan dan gizi terpadu sehingga mampu menjaga kesehatan serta meningkatkan status gizi peserta didik.

Nutritiom Officer UNICEF Papua, Dwi Kristanto saat ditemui wartawan di Hotel Suni Abepura, distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua pada Selasa (6/7/2026).
Nutritiom Officer UNICEF Papua, Dwi Kristanto saat ditemui wartawan di Hotel Suni Abepura. 

Baca juga: Pemkab Jayapura Gandeng Unicef Kembangkan Program Makan Bergizi Gratis Terintegrasi

Salah seorang peserta, guru SD Negeri Holtekamp, Meillinda E. Latupono, mengaku pelatihan tersebut memberikan wawasan baru bagi guru dalam mendampingi tumbuh kembang anak di sekolah.

Ia menilai guru memiliki peran penting dalam memantau kondisi kesehatan siswa, termasuk mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis.

“Melalui pelatihan ini kami memahami cara memantau kondisi gizi anak. Jika ada menu yang belum sesuai kebutuhan gizi siswa, kami dapat memberikan masukan kepada penyelenggara MBG agar kualitas makanan terus ditingkatkan,” ujarnya.

Meillinda menambahkan, sinergi antara sekolah, puskesmas, dan penyelenggara MBG menjadi kunci dalam memantau berat badan, tinggi badan, serta perkembangan kesehatan peserta didik. Jika ditemukan anak yang mengalami gangguan pertumbuhan, sekolah dapat segera berkoordinasi dengan puskesmas untuk mendapatkan penanganan.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap makanan yang dijual di kantin sekolah agar tetap aman dan bergizi, mengingat masih banyak anak mengonsumsi makanan instan tinggi gula, garam, dan bahan tambahan lainnya.

“Peran guru bukan hanya mengajar, tetapi juga memastikan lingkungan sekolah tetap sehat, termasuk mengawasi makanan yang dijual di kantin agar mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak,” tutupnya.

Laporan: M. Irfan

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *