Foto: istimewa | Dr. Septinus Saa, M.Si., Pembantu Rektor III Universitas Cendrawasih

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Wakil Rektor III Universitas Cenderawasih (Uncen), Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa pembangunan di Tanah Papua harus berpijak pada pendekatan budaya dan antropologi masyarakat setempat.
Penegasan itu disampaikan Septinus Saa saat peringatan Dies Natalis ke-48 Jurusan Antropologi Uncen yang berlangsung di Aula FISIP Uncen, Kota Jayapura, Jumat (9/1).
Menurutnya, Papua merupakan wilayah dengan keragaman sosial dan budaya yang sangat kompleks, dengan sekitar 250 suku yang memiliki latar belakang budaya dan lingkungan berbeda.
“Pembangunan di Papua tidak bisa diseragamkan. Pendekatan yang paling tepat adalah memahami budaya dan antropologi orang Papua,” ujar Septinus.
Ia menekankan bahwa Dies Natalis tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai refleksi tanggung jawab akademik melalui Tridarma Perguruan Tinggi, terutama riset yang berdampak langsung bagi pembangunan Papua.
“Jika kita memahami masyarakat Papua secara antropologis, maka kebijakan dan program pembangunan akan lebih tepat sasaran,” katanya.
Baca juga: UCCC III Resmi Ditutup, UNCEN Tegaskan Komitmen Kembangkan Seni Paduan Suara Papua
Septinus juga mengingatkan bahwa seluruh agen pembangunan, baik pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya, wajib memahami keragaman budaya orang Papua.
Ia mencontohkan, pemerintah kolonial Belanda mampu membangun Papua karena terlebih dahulu mempelajari dan memahami karakter sosial serta antropologi masyarakat lokal.
Lebih lanjut, ia berharap Pola Ilmiah Pokok (PIP) Uncen ke depan diperkuat dengan basis antropologi, budaya, dan lingkungan agar Uncen memiliki ciri khas dan keunggulan akademik yang membedakannya dari perguruan tinggi lain di Indonesia.
Sementara itu, Dekan FISIP Uncen, Dr. Marlina Flassy, S.Sos., M.Hum., Ph.D, menegaskan bahwa pendekatan budaya menjadi kunci utama dalam menjawab persoalan pembangunan Papua.
Menurutnya, Papua terbagi dalam beberapa zona wilayah dengan karakter budaya yang berbeda, mulai dari pesisir, dataran rendah, dataran tinggi, rawa hingga pegunungan.
Baca juga: “Menjelang Pensiun, Ketua Senat Uncen Prof. Kambuaya: ‘Tinggalkan Ego demi Masa Depan Kampus’”
“Budaya orang Papua sangat beragam.
Masyarakat pesisir berbeda dengan masyarakat pegunungan, begitu pula dengan wilayah rawa dan dataran rendah. Pendekatan pembangunannya juga harus berbeda,” ujarnya.
Marlina menegaskan, kesalahan terbesar dalam pembangunan Papua adalah menganggap orang Papua sebagai satu kesatuan yang seragam.
“Jangan menganggap orang Papua itu sama. Budayanya beragam, maka pendekatan pembangunannya pun tidak bisa diseragamkan,” tegasnya.
Laporan: Sony Rumainum

















