TEP Unair Perkuat Program Strategis Menuju Desa Sehat di Prafi

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: Mander | Tampak suasana Workshop penguatan kapasitas penangungjawab program Hidroponik, Biopori, Komposting dan IPLCRT di Sumber Boga, Rabu (26/8). 

Manokwari-PB, jurnalmamberamofoja.com — Tim 11 Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) terus memperkuat kapasitas pengelola program strategis sebagai bagian dari upaya mewujudkan desa sehat di Kawasan Transmigrasi Prafi.

banner 325x300

Program revitalisasi desa sehat tersebut menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan kesehatan. Kolaborasi melibatkan kader kesehatan, pemerintah kampung, perguruan tinggi melalui Unair, serta masyarakat.

Melalui sinergi tersebut, pelayanan dan edukasi kesehatan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi gerakan kesehatan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.

Ketua Tim 11 TEP Unair, Dr. Corie Indria Prasasti, S.KM., M.Kes., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari percepatan pengembangan desa sehat di Kawasan Transmigrasi Prafi.

“Melalui kegiatan ini, kita belajar bersama bagaimana mempercepat terwujudnya desa sehat. Nantinya akan disusun RTL (Rencana Tindak Lanjut) untuk memperkuat pelaksanaan program di empat kampung,” ujar Corie di sela-sela Workshop Penguatan Kapasitas Penanggung Jawab Program Hidroponik, Biopori, Komposting dan IPCLRT di GSG Kampung Sumber Boga, Rabu (26/8).

Ia menjelaskan, hasil workshop akan ditindaklanjuti melalui berbagai pelatihan teknis, meliputi hidroponik, IPCLRT, komposting, biopori, serta sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

“Penguatan kapasitas penanggung jawab program lebih diarahkan pada pelatihan dan peningkatan kemampuan teknis maupun manajerial, sehingga program strategis pemberdayaan masyarakat dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.

Baca juga: Tim Ekspedisi Patriot Unair Dorong Desa Sehat di Kawasan Transmigrasi Prafi

Menurut Corie yang juga Dosen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, pelatihan hidroponik mencakup pembibitan, perakitan instalasi, pengaturan nutrisi hingga manajemen operasional.

Berdasarkan hasil pemetaan titik lokus di lapangan, hidroponik merupakan hal baru bagi sebagian masyarakat. Karena itu, pelatihan tersebut diharapkan menjadi langkah awal yang dapat dikembangkan di kampung-kampung lainnya.

“Dari hasil pengecekan titik lokus di lapangan, hidroponik menjadi hal baru bagi masyarakat. Karena itu, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi pionir untuk kemudian dikembangkan di kampung-kampung lain,” katanya.

Corie menambahkan, sinergi antara masyarakat, pemerintah kampung dan perguruan tinggi diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, memperkuat pencegahan penyakit, serta menciptakan lingkungan yang mendukung perilaku hidup sehat.

“Program revitalisasi desa sehat diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dengan memanfaatkan kearifan dan potensi lokal sebagai kekuatan utama pembangunan kesehatan desa menuju desa sehat,” pungkasnya.

Laporan: Yamander Yensenem

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *