Foto: Irfan | Tampak panen raya padi di Mangkurawang disaksikan oleh ribuan peserta dalam semarak rembug dan Expo Kontak Tani Nekayan Nasional di Kukar, Kaltim Sabtu (20/9).

Kukar, jurnalmamberamofoja.com – Semarak Rembug dan Expo Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional di Kutai Kartanegara pada Sabtu (20/9) bukan hanya ajang silaturahmi petani dari seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama tentang masa depan pertanian yang lebih maju.
Salah satu momen penting adalah panen raya padi yang dipusatkan di Kelurahan Mangkurawang, Tenggarong, dan disaksikan ribuan peserta, termasuk perwakilan KTNA Kabupaten Jayapura, Papua.
Ketua KTNA Kabupaten Jayapura, Adolf Yoku, mengakui bahwa capaian petani Kutai Kartanegara tidak lepas dari penggunaan peralatan pertanian modern. Teknologi tersebut terbukti mempercepat proses budidaya, mulai dari pengolahan lahan hingga masa tanam, serta mampu menekan biaya produksi.
“Peralatan canggih yang dimiliki KTNA Kukar, seperti Drone Sprayer untuk penyemprotan hama, TR_CRAULER untuk pengolahan tanah, hingga Transplant untuk penanaman padi, benar-benar membantu petani meningkatkan hasil panen. Dengan cara ini, tenaga manusia lebih ringan dan hasil produksi jauh lebih baik,” ungkap Adolf Yoku, Minggu (21/9).
Baca juga: Mama Marta Ohee Pamerkan 100 Karya Kerajinan Papua di Expo KTNA 2025
Menurutnya, Kabupaten Jayapura yang memiliki wilayah potensial penghasil padi juga sangat membutuhkan dukungan teknologi serupa. Dengan adanya peralatan tersebut, petani Papua bisa bersaing dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah.
Senada dengan itu, Penyuluh Pertanian Lapangan sekaligus Koordinator BPP Besum, Miko Lolok, S.Pt., Sanggaih, yang turut hadir dalam expo, menilai kegiatan panen raya di Mangkurawang menjadi ajang pembelajaran berharga.
Pasalnya, hasil padi varietas Imparit 32 yang ditanam di sana mampu mencapai 6–7 ton gabah kering per hektare pada lahan percontohan.
“Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produksi rata-rata di Kabupaten Jayapura yang baru berkisar 3–4 ton per hektare. Artinya, jika petani di Jayapura mendapat dukungan alat modern, hasilnya pasti bisa meningkat,” jelas Miko.
Lebih jauh, Miko Lolok menuturkan bahwa untuk kondisi di Papua, penggunaan peralatan modern sangat mungkin diwujudkan, khususnya di wilayah penghasil padi seperti Kampung Karya Bumi, Sumbe, Sentap, dan Besum. Hanya saja, masih ada kendala pada sistem irigasi yang belum optimal.
“Petani di Karya Bumi misalnya, berharap hujan tidak turun saat masa tanam karena irigasi belum lancar. Padahal, kalau jaringan irigasi sudah baik, mereka bisa menanam hingga tiga kali setahun,” tambahnya.
Baca juga: Produk Unggulan Jayapura Curi Perhatian di Expo KTNA 2025, Puluhan Pembeli Serbu Stand Pemkab
Selain menyaksikan panen raya, para peserta expo juga berkesempatan melihat langsung demonstrasi penggunaan berbagai peralatan modern.
Kehadiran Bupati Tenggarong bersama jajaran, serta dukungan KTNA dari berbagai provinsi, semakin menegaskan bahwa pertanian masa depan harus ditopang oleh teknologi.
Adolf Yoku menegaskan, KTNA Jayapura akan mendorong pemerintah daerah untuk menindaklanjuti peluang ini, agar petani Papua tidak tertinggal dalam adopsi teknologi pertanian. “Dengan dukungan semua pihak, kita bisa mewujudkan pertanian maju, mandiri, dan modern,” pungkasnya.
Laporan: M. Irfan

















