Foto: Irfan | Nampak Tumpukan Sampah di Depan Pusat Perbelanjaan di sepanjang Jalan Protokol yang sudah mengeluarkan bau tak sedap. Insert: Ketua Komisi D DPRK Jayapura, Mashita K. S. Idar
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Wajah Kota Sentani sebagai pintu gerbang utama Provinsi Papua kini menjadi sorotan. Tumpukan sampah yang menggunung di sejumlah titik, terutama di sepanjang jalan protokol, kawasan pertokoan, hingga pusat aktivitas masyarakat, membuat kota terlihat kumuh, semrawut, dan mengeluarkan aroma tak sedap yang mengganggu kenyamanan warga maupun para pengguna jalan.
Pantauan di lapangan pada Rabu (1/7/2026) menunjukkan sampah rumah tangga dan limbah lainnya masih menumpuk di berbagai lokasi tanpa segera diangkut. Kondisi tersebut tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan dan lingkungan jika terus dibiarkan.
Sejumlah warga mengaku kesulitan membuang sampah karena tempat penampungan sementara (TPS) sudah penuh, sementara armada pengangkut sampah belum datang.
“Sudah beberapa hari sampah tidak diangkut. Waktu saya mau buang ke TPS juga ditolak karena sudah penuh. Sekarang kami bingung harus buang sampah ke mana,” ujar Heri, warga Sentani, Rabu (1/7/2026).

Keluhan masyarakat itu mendapat perhatian serius dari Ketua Komisi D DPRK Jayapura, Mashita K. S. Idar. Menurutnya, persoalan sampah yang kini melanda Kota Sentani harus segera ditangani secara cepat dan menyeluruh karena menyangkut citra Kabupaten Jayapura sebagai pintu masuk utama ke Papua melalui Bandara Internasional Sentani.
Mashita mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayapura segera mengerahkan seluruh armada yang tersedia untuk mengangkut tumpukan sampah yang telah berhari-hari dibiarkan menumpuk di pinggir jalan.
Selain penanganan darurat, ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Jayapura melakukan evaluasi terhadap sistem pengelolaan sampah, mulai dari jadwal pengangkutan hingga penambahan fasilitas Tempat Penampungan Sementara (TPS) agar sampah tidak lagi meluber ke badan jalan.
Baca juga: Turun ke Doyo Baru, Komisi D Bongkar Masalah Sampah: Armada Rusak hingga TPS Minim
Tak hanya itu, Mashita juga mendorong adanya penegakan aturan terhadap masyarakat maupun pelaku usaha yang membuang sampah sembarangan. Menurutnya, penegakan hukum harus dibarengi dengan edukasi yang berkelanjutan agar kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan semakin meningkat.
“Kota Sentani adalah gerbang utama memasuki Provinsi Papua melalui Bandara Internasional Sentani. Sangat memalukan apabila kesan pertama yang diterima tamu maupun masyarakat adalah kota yang kotor dan dipenuhi tumpukan sampah. Pemerintah harus mengambil langkah konkret secepatnya, tidak bisa terus ditunda,” tegas Mashita.
Meski demikian, politisi PKS itu juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan menjaga kebersihan lingkungan dengan mulai mengelola sampah dari rumah masing-masing serta tidak membuang sampah sembarangan.
“Saya berharap masyarakat dapat bersabar menghadapi kondisi ini, namun di sisi lain juga mulai membiasakan diri mengelola sampah rumah tangga agar tidak menimbulkan bau maupun
persoalan baru di lingkungan sekitar,” katanya.
Apabila persoalan ini tidak segera diatasi, tumpukan sampah dikhawatirkan akan menyumbat saluran drainase saat musim hujan, meningkatkan risiko banjir, sekaligus menjadi sumber penyebaran penyakit akibat sampah yang membusuk.
Masyarakat pun berharap Pemerintah Kabupaten Jayapura segera mengambil langkah nyata untuk memulihkan kebersihan Kota Sentani, sehingga wajah ibu kota kabupaten kembali bersih, nyaman, sehat, dan layak menjadi gerbang utama Provinsi Papua.
Laporan: M. Irfan

















