Foto: istimewa | Enjelin Amalhea Misiro, Pelajar SMK Kehutanan Negeri Manokwari, Anggota Paskibraka 2026.
Manokwari, jurnalmamberamofoja.com — Kegagalan pada seleksi pertama tidak membuat Enjelin Amalhea Misiro berhenti mengejar impiannya. Justru dari kegagalan itu, pelajar SMK Kehutanan Negeri Manokwari tersebut bangkit dan kembali mencoba hingga akhirnya berhasil menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada 2026.
Enjelin, yang lahir di Nabire pada 1 Juli 2009, pertama kali mengikuti seleksi Paskibra pada 2025. Namun, saat itu namanya belum masuk dalam daftar peserta yang terpilih.
Alih-alih menyerah, kegagalan tersebut dijadikannya sebagai pengalaman sekaligus motivasi untuk memperbaiki diri. Setahun kemudian, Enjelin kembali mengikuti seleksi dengan persiapan dan tekad yang lebih kuat.
Perjuangannya akhirnya membuahkan hasil. Pada 2026, Enjelin terpilih menjadi bagian dari Paskibra Kabupaten Manokwari dan dipercaya mengemban tugas sebagai pembawa baki bendera Merah Putih dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Untuk menjalankan tugas tersebut, Enjel harus melewati latihan intensif selama lebih dari tiga minggu. Kondisi cuaca Manokwari yang cukup berat menjadi salah satu tantangan selama masa pelatihan.
Rasa lelah bahkan sempat membuatnya hampir menyerah. Namun, dukungan dan pesan dari kedua orang tuanya menjadi kekuatan bagi Enjel untuk tetap bertahan hingga seluruh rangkaian latihan selesai.
Bagi Enjel, kepercayaan sebagai pembawa baki bukan sekadar tugas dalam sebuah seremoni. Amanah tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada Sang Merah Putih sekaligus persembahan bagi kedua orang tua, sekolah, dan daerah yang telah mendukung perjuangannya.
“Rasanya senang, bahagia. Akhirnya apa yang saya impikan sejak kecil tercapai,” ungkap Enjel Misiro.
Ia mengaku sempat merasa gugup ketika menjalankan tugas. Namun, latihan yang dijalani selama berminggu-minggu membuatnya mampu mengendalikan rasa gugup dan menjalankan amanah dengan baik.
“Pasti ada gugup, tapi saya percaya bisa menyelesaikan tugas dengan baik,” ujarnya.
Menjadi anggota Paskibra juga memberikan pengalaman berharga bagi Enjelin. Ia merasa semakin disiplin, berani, percaya diri, serta lebih mampu menghadapi tantangan tanpa mudah menyerah.
Kisah Enjelin menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Kegagalan justru dapat menjadi ruang untuk belajar, memperbaiki diri, bangkit, dan kembali mencoba.
Ia pun berpesan kepada generasi muda Papua agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Menurutnya, sebuah impian membutuhkan keberanian, kerja keras, disiplin, dan ketekunan untuk dapat diwujudkan.
Ke depan, Enjel ingin melanjutkan pengabdiannya kepada bangsa dan negara dengan mengejar cita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan).
Perjalanan Enjelin menjadi pengingat bahwa gagal sekali bukan berarti gagal selamanya. Selama ada kemauan untuk bangkit dan mencoba kembali, kesempatan untuk mewujudkan sebuah impian tetap terbuka.
Laporan: Sony Rumainum


















