Putri Asli Jayapura Ukir Prestasi Nasional, Raih IPK 3,98 dan Masuk Tiga Besar Lulusan Terbaik se-Indonesia

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Zr. Adolfina Roxie Yaung, S.Tr.Kes., mahasiswi asal kabupaten Jayapura ketika  wisuda. 

Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah akhirnya mengantarkan seorang putri asli Kabupaten Jayapura meraih prestasi membanggakan di tingkat nasional.

banner 325x300

Zr. Adolfina Roxie Yaung, S.Tr.Kes., mahasiswi asal Kenambay Umbay, Kabupaten Jayapura, berhasil menyelesaikan pendidikan di Universitas Perintis Indonesia (UPERTIS) Padang dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98. Capaian tersebut menempatkannya dalam jajaran 10 lulusan terbaik sekaligus meraih peringkat ketiga terbaik se-Indonesia di kampus tersebut.

Roxie resmi diwisuda pada 10 Juni 2026 di Hotel Pangeran Padang, Sumatera Barat. Prestasi yang diraihnya menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat Kabupaten Jayapura.

Dalam wawancara yang berlangsung di Obhe, Sabtu (20/6/2026), Roxie mengungkapkan bahwa perjalanan menyelesaikan studi bukanlah hal yang mudah. Selama kurang lebih satu setengah tahun, ia harus mengikuti perkuliahan secara daring sambil tetap menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara.

Menurutnya, kuliah daring sambil bekerja merupakan tantangan besar yang menuntut disiplin tinggi dalam mengatur waktu dan tenaga.

“Puji Tuhan karena penyertaan-Nya saya bisa menyelesaikan semua proses ini. Kuliah daring sambil bekerja sangat sulit. Banyak orang tidak tahu bagaimana beratnya membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan,” ungkap Roxie.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, ia mampu mempertahankan prestasi akademiknya hingga lulus dengan predikat membanggakan dan menyandang gelar Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medik.

Roxie menceritakan, salah satu tantangan terbesar selama kuliah adalah persoalan jaringan internet dan perbedaan waktu antara Papua dan Padang. Tidak jarang dirinya harus mengikuti perkuliahan saat berada di lapangan menjalankan tugas.

Bahkan, karena perbedaan zona waktu, proses perkuliahan sering berlangsung hingga dini hari.

“Kadang saya sedang turun lapangan, tetapi tetap harus mengikuti kuliah. Saya harus mencari lokasi yang memiliki jaringan internet yang baik agar bisa tetap mengikuti proses belajar. Kami sering kuliah sampai lewat tengah malam karena menyesuaikan jadwal dosen di Padang,” ujarnya.

Baca juga: Yan Mandenas Tuntaskan Seminar Disertasi Doktor, Soroti Dampak Otsus terhadap Kesejahteraan Orang Papua

Selain kendala teknis, beban biaya pendidikan juga menjadi tantangan tersendiri. Roxie mengaku harus membayar biaya kuliah lebih dari Rp7 juta setiap semester selama masa studi.

Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap berusaha menyelesaikan pendidikan dengan berbagai cara tanpa menyerah pada keadaan. “Saya tetap berjuang menyelesaikan kuliah meskipun kondisi keuangan sangat terbatas. Biaya kuliah cukup besar, tetapi saya percaya pendidikan adalah investasi masa depan,” katanya.

Roxie juga mengaku sempat berharap memperoleh bantuan pendidikan dari Pemerintah Kabupaten Jayapura. Namun hingga dirinya menyelesaikan studi, bantuan yang dijanjikan tersebut belum pernah diterimanya.

Meski demikian, kekecewaan itu tidak membuatnya kehilangan semangat untuk mengabdi kepada daerah asalnya.

Sebagai putri asli Kampung Umbai, Roxie menegaskan komitmennya untuk kembali memberikan kontribusi terbaik bagi Kabupaten Jayapura melalui ilmu dan pengalaman yang telah diperolehnya selama menempuh pendidikan.

“Saya akan tetap mengabdi di Kabupaten Jayapura. Ilmu yang saya dapatkan akan saya gunakan untuk melayani masyarakat dan memberikan yang terbaik bagi daerah ini,” tegasnya.

Melalui pengalamannya, Roxie berharap pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan putra-putri asli Jayapura yang memiliki semangat melanjutkan pendidikan tinggi.

Menurutnya, dukungan pendidikan merupakan investasi penting untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap membangun daerah.

“Saya jangan ada lagi anak-anak daerah yang mengalami kesulitan seperti yang saya alami. Jika ada putra-putri asli Jayapura yang ingin melanjutkan pendidikan, tolong dibantu karena pada akhirnya mereka akan kembali mengabdi untuk daerah ini,” pesannya.

Di akhir wawancara, Roxie menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para donatur, rekan kerja di lingkungan Dinas Kesehatan, keluarga, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan moral maupun materi selama masa perkuliahan.

Setelah resmi menyandang gelar Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medik, ia berencana mengurus penyesuaian ijazah dan gelar untuk mendukung pengembangan kariernya sebagai ASN.

Laporan: M. Irfan

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *