Foto: istimewa / Kalender, I.S Kijne dan Alm. Lukas Enembe
Jayapura, Jurnal Mamberamo Foja – Judul tulisan ini mungkin mengejutkan banyak orang. Namun, ini adalah hasil dari perenungan mendalam terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di Tanah Papua. Dari perenungan itu, lahirlah judul: “Tidak Akan Ada Gubernur Papua.”
Tulisan ini bukanlah sebuah kepastian, melainkan refleksi yang bisa menjadi kenyataan atau tidak, karena pada akhirnya, segala sesuatu berada dalam kendali dan otoritas Tuhan.
Dalam perenungan saya, ingatan saya kembali kepada pernyataan almarhum Lukas Enembe, mantan Gubernur Papua, yang pernah berkata bahwa dirinya adalah gubernur terakhir.
Awalnya, saya mengira pernyataan itu berkaitan dengan pemekaran wilayah. Namun, setelah melihat putusan Mahkamah Konstitusi (MK) hari ini—yang mendiskualifikasi calon Wakil Gubernur Papua serta menetapkan pemungutan suara ulang (PSU)—kata-kata Lukas Enembe semakin terngiang di benak saya.
MK memberikan tenggat waktu 180 hari atau sekitar enam bulan hingga Agustus 2025 untuk menggelar PSU di Papua. Namun, melihat situasi nasional dan global yang terus berubah, saya mulai meragukan apakah PSU ini benar-benar bisa terlaksana.
Refleksi Sejarah dan Tahun 2025
Keraguan ini semakin kuat ketika saya menyadari bahwa tahun 2025 memiliki kesamaan dengan tahun 1969 dalam penanggalan kalender. Artinya, kalender tahun 1969 dapat digunakan kembali di tahun ini.
Tahun 1969 adalah momen kelam dalam sejarah Papua—peristiwa Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang hingga kini masih menjadi catatan sejarah yang kontroversial bagi bangsa Papua.
Kesamaan kalender ini menimbulkan pertanyaan dalam hati saya: Apakah tahun 2025 akan mengulangi peristiwa besar itu? Apakah kegelapan yang terjadi pada 1969 akan berubah menjadi cahaya terang bagi Papua? Hanya Tuhan yang tahu jawabannya.
Selain itu, jika kita melihat ke belakang, tahun 2025 juga menandai 100 tahun peradaban bangsa Papua sejak Pdt. I.S. Kijne mengucapkan kata-kata bersejarahnya pada 25 Oktober 1925 di Wasior:
“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan marifat, tetapi jika mereka tidak dapat memimpin bangsa ini, maka bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
Sejarah besar yang berulang di tahun 2025 ini semakin membuat saya bertanya-tanya: Apakah ini akan menjadi tahun spesial bagi orang Papua di tengah tantangan ekonomi dan perang mata uang? Ataukah ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar PSU Gubernur Papua?
Pada akhirnya, hanya Tuhan yang tahu.
Editor: Sonny
Ditulis dalam perenungan jiwa oleh Pemuda Tabi Sairery, Senin, 24 Februari 2025








