Foto: istimewa / Tampak para tokoh pendiri GKI Harapan Abepura, di depan Gedung Gereja lama
Jayapura, Jurnal Mamberamo Foja – Gereja Kristen Injili (GKI) Harapan Abepura merayakan hari jadinya yang ke-82 pada 3 Maret 2025. Berdiri sejak 1943, gereja ini telah menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan kekristenan di Tanah Papua.
Dari sebuah persekutuan kecil yang berawal di masa Perang Dunia II hingga menjadi pusat spiritual bagi ribuan jemaat, GKI Harapan Abepura memiliki sejarah yang kaya dan penuh perjuangan.

Awal Mula: Dari Persekutuan Ebenhaezer ke Kerk der Hoop (1943-1953)
Sejarah gereja ini bermula pada 1943 dengan terbentuknya Persekutuan Ebenhaezer, yang terdiri dari jemaat suku Sanger, Maluku-Ambon, dan Papua di Hollandia Binnen (kini Abepura).
Ibadah pertama dipimpin oleh Pendeta A. Wattimena di sebuah bangunan bekas tentara Sekutu Amerika di persimpangan Jalan Biak dan Jalan Sekolah.
Seiring bertambahnya jumlah jemaat, kebutuhan akan gedung yang lebih besar semakin mendesak. Pada 1952-1953, jemaat mulai membangun gereja baru di atas tanah adat yang diserahkan oleh Ondofolo Mesak K. Mebri dari Yoka-Sentani.
Gereja ini diberi nama Kerk der Hoop dan diresmikan pada 3 Maret 1953 oleh Gubernur Nederlands Nieuw Guinea, Dr. J. van Baal. Gedung ini mampu menampung sekitar 200 jemaat dan menjadi tempat ibadah utama selama lebih dari dua dekade.

Transformasi Menjadi GKI Harapan Abepura (1953-1978)
Pada 1956, Kerk der Hoop menjadi lokasi Sidang Sinode Umum Pertama yang melahirkan Evangelisch Christelijke Kerk, cikal bakal GKI di Tanah Papua. Dengan berjalannya waktu, dan setelah Papua bergabung dengan Indonesia, nama gereja ini berubah menjadi GKI Harapan Abepura.
Jumlah jemaat yang terus bertambah menyebabkan perlunya gereja yang lebih besar. Pada 1975, rencana pembangunan gereja kedua dimulai. Tanpa bantuan kontraktor, pembangunan dilakukan secara swadaya oleh jemaat dengan arahan tukang ahli seperti Bapak Nadap Maniagasi dan desain dari Bapak Niko Nussy. Pembangunan ini berlangsung dari 1977 hingga selesai pada 1983.

GKI Harapan Abepura Kini: Menatap Masa Depan (1978-2025)
Gedung gereja kedua yang telah berdiri selama lebih dari empat dekade kembali menghadapi tantangan. Jumlah jemaat yang semakin meningkat, serta kondisi bangunan yang menua, mendorong jemaat untuk merencanakan pembangunan gereja ketiga.
Sejak 2019, jemaat terus bergumul dalam persiapan pembangunan, termasuk menyelesaikan masalah batas tanah yang mengalami penyusutan dari 10.000 m² menjadi 8.416 m².
Rencana pembangunan ini juga menjadi refleksi bagi jemaat: jika generasi terdahulu telah mewariskan rumah ibadah yang kokoh, maka apakah generasi sekarang siap meninggalkan warisan serupa bagi anak cucu?
Warisan Iman dan Panggilan Generasi Masa Depan
Sejarah GKI Harapan Abepura bukan sekadar kisah pembangunan fisik, tetapi juga bukti perjalanan iman jemaat yang terus berakar dan bertumbuh.
Perjalanan 82 tahun ini mengajarkan bahwa pembangunan gereja bukan hanya tentang gedung, tetapi juga tentang membangun komunitas yang kuat dalam kasih dan pelayanan.
Sebagai gereja yang telah menjadi “ibu” bagi banyak jemaat di Tanah Papua, GKI Harapan Abepura diharapkan terus menjadi pusat spiritual yang membawa terang dan harapan bagi generasi mendatang.
Dirgahayu GKI Harapan Abepura ke-82!
Laporan: Sony RM







