Desakan Tuntas: Jurnalis dan Aktivis HAM Gelar Aksi di Polda Papua Tuntut Kejelasan Kasus Molotov Jubi

Spread the love

Foto istimewa/ Suasana aksi damai para jurnalis dan pegiat HAM di Jayapura, Selasa, (17/12).

Penulis: Simson Rumainum

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Puluhan jurnalis dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang tergabung dalam Koalisi Advokasi Keadilan dan Keselamatan Jurnalis di Tanah Papua melakukan aksi damai di depan Mapolda Papua, Jayapura, Selasa (17/12/2024).

Mereka menuntut kejelasan pengungkapan kasus pelemparan bom molotov ke Kantor Redaksi Jubi yang terjadi dua bulan lalu, pada 16 Oktober 2024.

Aksi dimulai pukul 11.00 Waktu Papua dengan spanduk besar bertuliskan, “62 Hari Bom Molotov di Kantor Redaksi Jubi” serta sejumlah kritik tajam seperti, “Di Hutan Cepat, Di Kota Lambat” dan “Kapolda Papua Harus Bertanggung Jawab”.

Para peserta aksi juga membawa payung hitam sebagai simbol duka dan protes atas lambatnya penanganan kasus tersebut.

Koalisi Soroti Kinerja Polda Papua
Elisa Sekenyap, koordinator aksi, dalam orasinya mempertanyakan lambannya penyelidikan Polda Papua.

Ia menyebut bahwa dengan waktu dua bulan, kasus ini seharusnya sudah menunjukkan perkembangan berarti.

“Apakah tidak ada saksi atau bukti? Atau kasus ini sengaja dibiarkan? Kalau kasus-kasus di kampung bisa cepat diungkap, kenapa di kota besar seperti ini malah lambat?” ujarnya.

Elisa juga mengingatkan bahwa pengabaian kasus ini bisa mengikis kepercayaan publik terhadap kepolisian.

Ia menambahkan, alasan perayaan Natal tidak bisa dijadikan dalih untuk menunda pengungkapan kasus ini. “Bukti sudah ada, saksi pun ada. Polisi harus segera bertindak sebelum kepercayaan masyarakat benar-benar habis,” tegasnya.

Dukungan dan Kritik dari Jurnalis Hingga Advokat

Beberapa jurnalis turut memberikan pernyataan serupa. Engel Wally, salah satu wartawan Jubi, menyebut bahwa dengan sumber daya besar yang dimiliki, kepolisian seharusnya mampu mengungkap pelaku di balik aksi teror ini.

“Kita percaya polisi profesional. Tapi kapan kasus ini selesai? Kalau tidak ada keadilan di sini, lebih baik kita ke Betlehem saja,” kata Engel dengan nada sarkastik.

Advokat Gustaf Kawer, kuasa hukum Jubi, menyoroti bahwa bukti seperti rekaman CCTV dan keterangan sembilan saksi seharusnya cukup kuat untuk membawa kasus ini ke pengadilan.

“Kalau sampai saat ini pelaku belum diumumkan, itu hanya alasan untuk mengulur waktu. Jangan sampai kasus ini berakhir tanpa tersentuh hukum,” ujarnya.

Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, menegaskan bahwa tindakan teror seperti ini bukan hanya ancaman terhadap Jubi, tetapi juga upaya menciptakan ketakutan secara sistematis. “Ini bukan soal media saja, tapi soal teror terhadap demokrasi di Papua,” tegasnya.

Respons Polda Papua: Diminta Sabar
Menanggapi aksi tersebut, Kasubdit Jatanras Reskrimum Polda Papua, Kompol Dony Cancero, menyatakan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung.

Meski demikian, ia tidak memberikan penjelasan rinci terkait perkembangan kasus tersebut.

“Proses penyelidikan terus berjalan. Kita sudah mengumpulkan bukti dan fakta, namun belum bisa disampaikan secara detail ke publik. Mohon dukung kerja kami,” katanya saat menemui perwakilan massa.

Aksi diakhiri sekitar pukul 12.45 WP dengan tuntutan agar kasus ini diungkap sebelum Natal 2024. “Jika pelaku tidak ditangkap sebelum Natal, maka kami akan kembali turun ke jalan,” teriak salah satu orator sebelum massa membubarkan diri.

Kasus Bom Molotov dan Tuntutan Transparansi

Pelemparan bom molotov di Kantor Redaksi Jubi menambah daftar panjang ancaman terhadap jurnalis di Papua.

Para aktivis mendesak polisi menunjukkan keberanian dan transparansi dalam menangani kasus ini, mengingat bukti-bukti yang dinilai sudah cukup kuat.

Apakah kasus ini akan segera terungkap? Masyarakat Papua kini menantikan langkah nyata dari Polda Papua untuk memastikan keadilan dan rasa aman bagi para jurnalis.

(SR)

Related Posts

Mahasiswa Papua Tengah Tewas Ditusuk di Bantul, Polisi Buru Pelaku Usai Perkelahian Berdarah

Spread the love

Spread the loveFoto: istimewa | Tampak Mahasiswa Papua, korban penusuk ketika dievakuasi petugas, Sabtu (17/1).  Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Peristiwa perkelahian berdarah kembali terjadi di wilayah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Seorang…

MDF Kunjungi Panti Tuna Netra Biak, Janji Benahi Fasilitas dan Perkuat Pembinaan Disabilitas

Spread the love

Spread the loveFoto: istimewa | Gubernur Papua Komjen Pol (Purn) Matius D Fakhiri, SIK., MH., bersama Bupati Biak Markus O. Mansnembra, SH., MM., dan jajaran OPD disela kunjungan di panti…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Dilantik hingga 2033, Kepala Kampung Murumare Tegaskan Komitmen Kawal Dana Desa dan Percepat Infrastruktur

Dilantik hingga 2033, Kepala Kampung Murumare Tegaskan Komitmen Kawal Dana Desa dan Percepat Infrastruktur

Panggung Seni Robongholo Diresmikan, Pemkab Jayapura Dorong Generasi Muda Lestarikan Budaya Sentani

Panggung Seni Robongholo Diresmikan, Pemkab Jayapura Dorong Generasi Muda Lestarikan Budaya Sentani

Sambut Tahun Baru di Gunung Merah, Pemkab Jayapura Umumkan Pemenang Pondok Natal 2025

Sambut Tahun Baru di Gunung Merah, Pemkab Jayapura Umumkan Pemenang Pondok Natal 2025

HPM-MR Desak ASN Mamberamo Raya Kembali Bertugas, Mahasiswa Siap Kawal Program Pemda

HPM-MR Desak ASN Mamberamo Raya Kembali Bertugas, Mahasiswa Siap Kawal Program Pemda

Bupati Jayapura Sentil ASN di Apel Pagi, Disiplin Jadi PR Besar 2026

Bupati Jayapura Sentil ASN di Apel Pagi, Disiplin Jadi PR Besar 2026

Menteri HAM Natalius Pigai Tiba di Jayapura, Buka Agenda Penguatan Perlindungan HAM di Papua

Menteri HAM Natalius Pigai Tiba di Jayapura, Buka Agenda Penguatan Perlindungan HAM di Papua