Dari Polisi ke Peracik Kopi: Keputusan Vicky yang Mengguncang Isi Integritas Hukum

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Nampak Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) Vicky Katiandagho, Personel Polres Minahasa, yang memilih mundur karena integritas. 

Minahasa, jurnalmamberamofoja.com — Keputusan mengejutkan datang dari mantan anggota kepolisian, Aipda Vicky Katiandagho, yang memilih mundur dari institusi Polri dan beralih profesi sebagai peracik kopi, video perpisahan di Vicky di unggah di akun instagram miliknya 1 April lalu.

banner 325x300

Langkah ini diambil di tengah polemik yang menyeret namanya dalam penanganan kasus dugaan korupsi di wilayah Minahasa.

Vicky sebelumnya terlibat dalam penyelidikan kasus pengadaan tas ramah lingkungan yang bergulir sejak 2021. Namun, proses hukum yang sempat meningkat ke tahap penyidikan disebutnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ia mengungkap adanya dugaan faktor kedekatan antara pihak tertentu dengan pejabat berpengaruh yang dinilai berpotensi memengaruhi arah penanganan perkara. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama dirinya memilih keluar dari institusi.

“Lebih baik jadi tukang kopi daripada tunduk pada penjilat,” tegas Vicky, menggambarkan sikap kritisnya terhadap situasi yang dihadapi.

Baca juga: Perintah Kilat Prabowo: Evakuasi Warga Bitung hingga Batang Dua Digenjot Tanpa Tunda

Dalam perjalanan kariernya, Vicky juga sempat dimutasi dari Minahasa ke Kepulauan Talaud saat proses pengusutan perkara masih berlangsung.

Mutasi itu memicu perhatian publik karena terjadi di tengah momentum penanganan kasus.

Ia mengaku telah menyampaikan laporan kepada pimpinan tertinggi Polri terkait kondisi tersebut. Namun hingga akhirnya memutuskan mundur, Vicky menyebut tidak pernah menerima respons.

Pasca kepergiannya, penanganan kasus yang sempat ia tangani disebut tidak menunjukkan perkembangan berarti. Bahkan, berkas perkara dikabarkan dikembalikan karena dianggap belum memenuhi syarat administratif.

Keputusan Vicky meninggalkan institusi kepolisian pun memantik sorotan luas terhadap tantangan penegakan hukum di daerah, terutama menyangkut independensi aparat dan potensi intervensi dalam proses hukum.

Kini, di balik mesin kopi dan aroma seduhan yang ia racik sendiri, Vicky memilih menjalani hidup yang lebih sederhana. Meski demikian, ia menegaskan tetap berpegang pada prinsip integritas yang selama ini diyakininya.

Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa integritas dalam penegakan hukum bukan hanya diuji oleh aturan, tetapi juga oleh tekanan kekuasaan dan dinamika di dalam sistem itu sendiri.

Laporan: Sony Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *