10 Tahun Bertahan, “Bunga Tanjung” Ati Youwe Rawat Identitas Papua Lewat Kerajinan

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: Sony | Nampak Mama Ati Youwe, Pengrajin pernak-pernik khas Papua, usaha Rumahan di Hamadi Tanjung, Distrik Jayapura Selatan, Minggu (23/8). 

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin pesat, kerajinan tangan khas Papua tetap memiliki tempat tersendiri. Bagi sebagian pelaku usaha, produk tersebut bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas dan budaya Papua.

banner 325x300

Semangat itulah yang terus dijalankan Ati Youwe, pengrajin asal Hamadi Tanjung, Kota Jayapura, melalui usaha rumahan bernama “Bunga Tanjung”.

Selama kurang lebih 10 tahun, Ati konsisten mengembangkan usaha kecilnya dengan memproduksi dan menjual berbagai aksesori khas Papua. Usahanya kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui Festival Creative IKM dan UKM Galeri Kota Jayapura yang digelar di halaman Terminal Tipe A Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Minggu (23/8/2026).

Saat ditemui Media Jurnal Mamberamo Foja, Ati mengaku bersyukur karena usahanya hingga kini masih dapat bertahan. Menurutnya, perhatian dan pembinaan dari Pemerintah Kota Jayapura turut memberikan motivasi bagi dirinya dan pelaku usaha kecil lainnya untuk terus berkembang.

Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Deperindakop) Kota Jayapura, Alberto Itaar, S.IP., M.Si., yang dinilai memberikan ruang bagi para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) asal Port Numbay.

“Kami sangat berterima kasih karena selalu diperhatikan sebagai IKM asal Port Numbay. Kalau ada kegiatan atau festival yang diselenggarakan Pemerintah Kota Jayapura, kami selalu diberikan kesempatan untuk menampilkan dan menjual hasil kerajinan kami,” ungkap Ati.

Menurutnya, berbagai kegiatan dan festival yang difasilitasi pemerintah menjadi kesempatan penting bagi pelaku usaha kecil untuk memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat sekaligus memperluas pasar.

Dari Aksesori hingga Produk Pangan Lokal

Selain mengikuti kegiatan pameran dan festival, Ati tetap menjalankan aktivitas usahanya sehari-hari dengan berjualan di Pasar Sentral Hamadi.

Berbagai produk khas Papua tersedia di lapaknya, mulai dari mahkota Papua, noken, gelang atau sarak, besi putih, sisir bambu, manik-manik hingga beragam aksesori lainnya.

Tidak hanya kerajinan, Ati juga menawarkan sejumlah produk pangan lokal seperti minyak kelapa asli dan madu dari Wamena. Keberagaman produk tersebut menjadi daya tarik tersendiri.

Setiap barang yang dijual tidak sekadar menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga membawa cerita mengenai budaya, keterampilan, dan kekayaan lokal Papua.

Bagi Mama Ati, mempertahankan usaha selama satu dekade bukan hanya tentang mencari penghasilan. Ia ingin usaha yang dijalankannya dapat ikut menjaga keberadaan produk budaya Papua agar tetap dikenal dan digunakan oleh masyarakat.

Berharap Dukungan Modal Usaha

Di tengah perjuangan mempertahankan usaha kecilnya, Ati berharap perhatian pemerintah terhadap pelaku IKM dan UKM, khususnya perempuan Papua asal Port Numbay, dapat terus ditingkatkan.

Ia berharap dukungan tersebut tidak hanya dalam bentuk kesempatan mengikuti festival dan pameran, tetapi juga berupa tambahan modal usaha yang dapat membantu pelaku industri rumah tangga meningkatkan produksi dan memperluas pemasaran.

“Kami berharap ada perhatian khusus untuk ibu-ibu Papua asal Port Numbay yang menjalankan usaha kecil. Kami ingin usaha ini terus berjalan dan berkembang,” harapnya.

Menurut Ati, masih banyak perempuan Papua dari berbagai wilayah adat yang kini tinggal di Kota Jayapura dan menjalankan usaha kecil. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah terus memberikan ruang, pembinaan, serta dukungan agar usaha mereka dapat berkembang.

Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Mama Ati. Ia merasa bangga ketika produk kerajinannya mendapat perhatian langsung dari pemerintah daerah.

Pada hari pertama kegiatan, stand “Bunga Tanjung” bahkan dikunjungi Wali Kota Jayapura yang melihat langsung berbagai produk kerajinan yang dipamerkan sekaligus membeli hasil karya yang dijual Ati.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kami karena hasil karya ibu-ibu Papua mendapat perhatian,” tuturnya.

Dukung Pemerintah Kota Jayapura

Mama Ati berharap perhatian terhadap pelaku usaha kecil dapat terus dilanjutkan pada masa mendatang. Ia juga menyampaikan dukungannya terhadap kepemimpinan Wali Kota Jayapura Abisai Rollo bersama Wakil Wali Kota Rustan Saru.

“Kami akan tetap mendukung kedua bapak ini untuk maju lagi pada jilid kedua sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jayapura,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah terus hadir dan memberikan perhatian kepada pelaku usaha kecil, terutama perempuan Papua yang berjuang membangun ekonomi keluarga melalui usaha mandiri.

“Kami berharap pemerintah terus maju dan melihat kami, perempuan asli Port Numbay, para pengusaha kecil yang ada di Kota Jayapura. Selain kami, masih banyak Mama-Mama Papua dari tujuh wilayah adat yang tinggal di Kota Jayapura dan juga mempunyai usaha,” tutupnya.

Kisah “Bunga Tanjung” menjadi salah satu gambaran bagaimana usaha kecil berbasis budaya dapat bertahan sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat.

Dengan dukungan pemerintah, pembinaan yang berkelanjutan, promosi produk lokal, serta dukungan masyarakat untuk menggunakan karya lokal Papua, kerajinan seperti yang dijalankan Ati Youwe berpeluang terus tumbuh dan dikenal lebih luas.

Laporan: Sonny Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *