Foto: Irfan | Tampak Pdt. Albert Suebu, S.Si., Ketua Klasis GKI Sentani, Kabupaten Jayapura
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Krisis
lingkungan di kawasan Danau Sentani kian mengkhawatirkan. Persoalan sampah dan tersumbatnya aliran air disebut menjadi faktor utama yang memicu luapan air dan berdampak pada permukiman warga.
Ketua Klasis GKI Sentani, Albert Suebu, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah daerah. Ia menilai, keterlibatan aktif masyarakat, termasuk gereja, menjadi kunci dalam menghadapi situasi tersebut.
“Gereja tidak boleh hanya hadir dalam kegiatan ibadah, tetapi juga harus ambil bagian dalam menjaga lingkungan,” tegasnya.
Baca juga: Debit Air Naik Drastis, Danau Sentani Ancam Pemukiman Warga
Menurut Suebu, gereja memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kolektif jemaat, terutama terkait pengelolaan sampah yang selama ini masih menjadi persoalan serius di wilayah Sentani.
Ia menyatakan, pihak gereja siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan komunitas pemuda untuk melakukan aksi nyata, seperti kerja bakti dan pembersihan lingkungan di kawasan terdampak.
Pendekatan berbasis komunitas, kata dia, menjadi langkah efektif untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang. Edukasi dari lingkup terkecil, yakni rumah tangga, dinilai penting untuk menekan pencemaran lingkungan.
“Kesadaran harus dimulai dari rumah. Jika pengelolaan sampah dilakukan dengan baik, dampaknya akan langsung terasa bagi lingkungan,” ujarnya.
Suebu juga mengingatkan bahwa kondisi lingkungan di Kabupaten Jayapura semakin rentan, dipengaruhi oleh perubahan cuaca serta aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan.
Karena itu, ia berharap adanya sinergi yang kuat antara gereja, pemerintah, dan masyarakat agar persoalan ini tidak terus berulang.
“Kita semua punya tanggung jawab menjaga ciptaan Tuhan, termasuk alam di sekitar kita. Ini bukan hanya soal hari ini, tetapi masa depan,” pungkasnya.
Laporan: M. Irfan

















