Foto: Irfan | Tampak ribuan umat muslim mengikuti Sholat Idul Fitri di Masjid Agung Al – Aqsha Sentani, Sabtu (21/3).

Sentani, jurnalmamberamofoja.com — Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti pelaksanaan Salat Idul Fitri di Masjid Agung Al-Aqsha Sentani, Sabtu (21/3/2026). Ribuan umat Muslim dari berbagai kalangan memadati halaman masjid sejak pagi hari untuk menunaikan ibadah salat Id.
Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa tampak berbaur dalam satu saf, mencerminkan semangat persatuan di momen kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan.
Dalam khutbahnya, khotib Sakarudin mengangkat tema tentang hakikat dan tujuan penciptaan manusia. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan, terutama di tengah adanya perbedaan penentuan 1 Syawal.
“Perbedaan penentuan 1 Syawal bukan alasan untuk bertikai. Yang berbeda hanya waktu, sementara esensi dan pelaksanaan Idul Fitri tetap sama,” ujarnya di hadapan jamaah.
Baca juga: Meriah dan Tertib, Takbir Keliling Sentani Dikawal Ketat Aparat hingga Tuntas
Menurutnya, perbedaan dalam Islam adalah bagian dari rahmat dan harus disikapi dengan bijak serta penuh toleransi. Ia mengajak umat untuk tidak terjebak dalam perdebatan yang justru dapat merusak ukhuwah.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk mengingat dan beribadah kepada Allah SWT. Hal itu, katanya, sejalan dengan pesan dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali Imran ayat 190, tentang tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir.
Momentum Idul Fitri, lanjutnya, menjadi saat refleksi setelah sebulan penuh menjalankan ibadah Ramadan, mulai dari puasa, membaca Al-Qur’an, hingga menunaikan zakat, infak, dan sedekah.
“Ramadan adalah waktu untuk memperkuat keimanan dan mempererat silaturahmi. Kehidupan di dunia ini hanya sementara, sehingga penting bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas ibadah,” katanya.
Di akhir khutbah, ia kembali mengajak seluruh umat Muslim untuk menjaga persatuan dan mempererat tali silaturahmi, meskipun terdapat perbedaan dalam penentuan hari raya.
“Walau berbeda, kita tetap satu dalam ukhuwah Islamiyah,” tutupnya.
Laporan: M. Irfan

















