Foto: istimewa | Victor M. Buefar, Pemerhati Politik Papua

Victor: Putusan MK Adalah Ujian Kedewasaan Demokrasi Papua
Jakarta, Jurnalmamberamofoja.com — Papua tengah menanti sebuah momen penting dalam perjalanan panjang demokrasi. Setelah rakyat menentukan pilihan pada 6 Agustus 2025, kini seluruh perhatian tertuju pada Mahkamah Konstitusi yang dijadwalkan membacakan putusan pada Rabu, 17 September 2025.
Pemerhati politik Papua, Victor Michael Buefar, menegaskan bahwa putusan MK kali ini tidak boleh dipandang semata-mata sebagai penentuan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
“Keputusan ini adalah ukuran seberapa matang masyarakat Papua dalam menghargai hukum, menjaga ketenangan, serta mengutamakan persatuan di atas perbedaan politik,” ujar Victor.
Victor menjelaskan, rangkaian sidang MK telah berlangsung terbuka dan transparan. Proses dimulai dari sidang dismissal, dilanjutkan pembuktian, hingga menghadirkan saksi-saksi dari kedua belah pihak. Semua argumen, bantahan, dan bukti telah dipaparkan di ruang sidang.
Baca juga: Victor Buefar: PSU Papua Jadi Pelajaran, Saatnya Bersatu Dukung Gubernur Terpilih
“Bahkan dugaan kecurangan di sejumlah daerah juga tidak disembunyikan, semuanya dibahas gamblang melalui jalur konstitusional, bukan opini liar di luar sidang,” tegasnya.
Karena itu, menurut Victor, rakyat Papua seharusnya tidak lagi terjebak dalam perdebatan tanpa ujung.
“Demokrasi sejati bukan soal siapa yang paling keras menyuarakan perbedaan, tetapi tentang kerelaan menerima putusan dengan hati besar. Kegaduhan hanya akan merugikan masyarakat luas dan menghambat pembangunan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Victor mengajak seluruh masyarakat Papua, khususnya yang berada di wilayah Tabi dan Saireri, agar menyambut putusan MK dengan kedewasaan.
“Jangan biarkan provokasi segelintir orang merusak kedamaian yang kita rawat bersama. Suara rakyat sudah dititipkan di bilik suara, kini saatnya menjaga amanat itu dengan tanggung jawab,” katanya.
Baca juga: Benhur–Constan Gugat PSU Papua, Klaim Ada TPS dengan Partisipasi Pemilih Melebihi 100 Persen
Ia juga menekankan pentingnya stabilitas kepemimpinan di Papua. Tanpa pemimpin definitif, roda pemerintahan dan berbagai program pembangunan akan terhambat.
“Yang paling dirugikan tentu masyarakat kecil yang menantikan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu menerima keputusan dengan ikhlas adalah langkah penting untuk menatap masa depan bersama,” ujar Victor.
Menurutnya, generasi Papua hari ini akan tercatat dalam sejarah bukan karena menggelorakan perpecahan, melainkan karena menunjukkan kedewasaan dalam demokrasi.
“Ini akan menjadi warisan berharga bagi anak cucu kita, bahwa Papua pernah melewati masa sulit dengan damai. Kita akan dikenang sebagai generasi yang menjaga kedamaian ketika diuji,” tutupnya.
Victor pun mengajak seluruh rakyat Papua meneguhkan tekad bersama, bahwa tanah ini tetap menjadi rumah damai.
“Biarlah keputusan MK menutup perjalanan panjang ini, sekaligus membuka pintu menuju masa depan yang lebih baik. Saatnya kita bersatu, bahu-membahu membangun Papua untuk kesejahteraan semua,” pungkasnya.
Laporan: Roy

















