Foto: istimewa | Victor M. Buefar, Pemuda Papua

Pemuda Papua Bangkit! Kecam Pembakaran Mahkota Cenderawasih Oleh BBKSDA
Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Gelombang kemarahan dan kekecewaan melanda masyarakat Papua menyusul beredarnya video yang menampilkan aksi pembakaran mahkota Burung Cenderawasih oleh pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua. Aksi tersebut kini menuai kecaman keras dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan pemuda Papua.
Salah satunya datang dari Victor Buefar, pemuda Papua yang dengan tegas menyuarakan penolakannya terhadap tindakan tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh BBKSDA tidak hanya melukai perasaan masyarakat adat, tetapi juga menodai simbol kehormatan yang telah dijaga turun-temurun oleh leluhur bangsa Papua.
“Tindakan pembakaran itu sama saja dengan membakar jati diri dan kehormatan orang asli Papua. Burung Cenderawasih bukan sekadar satwa langka, tapi lambang martabat dan kebanggaan kami sebagai anak negeri Tanah Surga,” ujar Victor dalam pernyataannya, Jumat (24/10).
Baca juga: Simbol Adat Dibakar, Anggota DPR Papua Pegunungan Murka: ” Itu Penghinaan terhadap Identitas Kami “
Buefar menjelaskan, bagi masyarakat Papua, Burung Cenderawasih yang dijuluki “Bird of Paradise” atau “Burung Surga” memiliki makna spiritual dan kultural yang mendalam. Burung ini menjadi simbol keindahan, kemuliaan, dan kekuatan perempuan Papua, yang diabadikan dalam bentuk mahkota adat sebagai lambang status dan kebanggaan.
Oleh karena itu, pembakaran mahkota Cenderawasih dianggap sebagai tindakan pelecehan budaya dan penghinaan terhadap spiritualitas masyarakat adat Papua.
“Tindakan seperti itu tidak bisa dibenarkan atas alasan apa pun. Kami menuntut agar BBKSDA Papua bertanggung jawab secara terbuka dan meminta maaf kepada masyarakat Papua,” tegasnya.

Lebih jauh, Victor mendesak pemerintah dan KLHK untuk memberikan sanksi tegas terhadap oknum yang terlibat dalam video pembakaran tersebut baik secara administratif maupun melalui hukum adat Papua. Menurutnya, hukum adat harus dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kultural yang hidup di tengah masyarakat.
“Sanksi adat itu penting, karena ini bukan sekadar pelanggaran prosedur, tetapi pelanggaran terhadap roh dan martabat budaya kami,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pelestarian Burung Cenderawasih tidak boleh hanya berhenti pada aspek biologis semata. Pemerintah dan lembaga konservasi harus memahami bahwa pelestarian sejati berarti juga menjaga makna budaya dan simbol spiritual yang melekat pada burung tersebut.
Baca juga: BBKSDA Bakar Mahkota Cenderawasih, DPR Papua Tengah: Ini Penghinaan terhadap Martabat Budaya Papua
“Menjaga Burung Cenderawasih berarti menjaga identitas Papua. Pemerintah harus melindungi burungnya sekaligus menghormati nilai adat yang menyertainya,” tambahnya.
Victor berharap, peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar ke depan tidak ada lagi tindakan yang menyinggung budaya lokal. Ia menyerukan agar ke depan setiap kebijakan dan tindakan konservasi di Tanah Papua dilakukan dengan pendekatan yang menghargai masyarakat adat sebagai pemilik sah tanah dan budaya ini.
“Kami pemuda Papua tidak diam. Kami akan terus bersuara agar pemerintah dan lembaga negara belajar menghormati simbol-simbol kami. Karena bagi kami, mahkota Cenderawasih bukan sekadar benda, tapi cermin dari jiwa Papua itu sendiri,” pungkasnya.
Laporan: Roy Hamadi









