Foto: istimewa / Nur Alisa Aulia, balita korban kekerasan
Jayapura, Jurnal Mamberamo Foja – Peristiwa tragis yang menimpa balita Nur Alisa Aulia (3,5 tahun) menjadi pengingat menyakitkan betapa rentannya anak-anak terhadap tindak kekerasan.
Ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di sebuah kolam di kawasan Koya, Distrik Muara Tami, Rabu (2/4), kasus ini mengguncang nurani dan menggugah kesadaran kita akan pentingnya sistem perlindungan anak yang lebih kuat.
Korban sebelumnya dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak Minggu (30/3). Pencarian intensif yang melibatkan aparat dan warga akhirnya menemukan korban, namun dalam kondisi mengenaskan.
Annisa Alkatiry Kaur Pelayanan Dokpol mengatakan Otopsi yang dilakukan di RS Bhayangkara Jayapura pada Kamis (3/4) mengungkap fakta mengejutkan: terdapat luka-luka akibat benda tajam dan lengan kiri korban bahkan terputus. Meski tidak ditemukan indikasi kejahatan seksual, hasil otopsi tetap mengindikasikan tindakan kekerasan serius terhadap anak.
“Ada indikasi kekerasan benda tajam, luka lebih dari tiga, dan lengan kiri korban terputus,” ungkap Annisa.
Kejadian ini menegaskan bahwa keselamatan anak tidak bisa dianggap sepele. Perlindungan anak harus menjadi tanggung jawab bersama keluarga, tetangga, aparat keamanan, hingga komunitas lokal.
Ketika seorang anak bisa hilang dari pengawasan dalam hitungan menit, maka sistem pengawasan sosial kita layak dipertanyakan.
Banyak kasus serupa yang berujung pada kekerasan bahkan kematian anak, kerap bermula dari kelengahan lingkungan sekitar.
Lingkungan harus menjadi mata dan telinga bagi anak-anak, terutama di ruang publik atau kawasan padat penduduk.
Saat ini, kepolisian tengah melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap pelaku. Namun, lebih dari sekadar proses hukum, masyarakat menanti keadilan dan langkah nyata agar tragedi serupa tidak berulang.
Kematian Alisa bukan sekadar angka dalam statistik kriminal. Ia adalah representasi dari kegagalan kita melindungi yang paling rentan di antara kita.
Penting bagi semua pihak, baik pemerintah, LSM, maupun komunitas lokal untuk memperkuat sistem perlindungan anak. Pendidikan keamanan sejak dini, sistem pelaporan cepat, serta patroli sosial di kawasan rawan harus diperkuat. Jangan tunggu korban berikutnya untuk mulai peduli.
Kasus ini bukan hanya soal mencari pelaku. Ini tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat, bisa mengubah tragedi menjadi momentum perbaikan.
Laporan: Sony RM
















