Foto: Irfan | Asisten I Bidang Pemerintahan Umum Setda Kabupaten Jayapura yang juga Ketua FDS XV Tahun 2026, Gilberd R. Yakwart ketika diwawancarai usai Rapat Panitia FDS bersama Bupati dan Wakil Bupati Jayapura, yang berlangsung di Grand Cartenz Hotel, Rabu, (24/6).
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Pelaksanaan Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 resmi diundur. Semula puncak festival dijadwalkan berlangsung pada 3-5 Agustus 2026, namun berdasarkan hasil rapat bersama Bupati dan Wakil Bupati Jayapura, agenda budaya yang masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) itu digeser ke 1-5 September 2026.
Keputusan tersebut disampaikan Asisten I Bidang Pemerintahan Umum Setda Kabupaten Jayapura yang juga Ketua Panitia FDS XV Tahun 2026, Gilberd R. Yakwart, usai rapat panitia bersama Bupati, Wakil Bupati, Sekda, pimpinan OPD dan 19 kepala distrik di Grand Cartenz Hotel, Sentani, Rabu (24/6/2026).
Menurut Gilberd, pra-event yang sebelumnya direncanakan mulai awal Juli juga ikut bergeser dan akan dilaksanakan pada 20 Agustus hingga 1 September 2026. Sedangkan puncak Festival Danau Sentani akan berlangsung selama lima hari, yakni 1-5 September 2026.
“Keputusan panitia bersama pemerintah daerah adalah menunda pelaksanaan FDS. Pra-event dimulai 20 Agustus dan puncak acara berlangsung pada 1 sampai 5 September,” ujar Gilberd. Ia menjelaskan, penundaan dilakukan karena kesiapan infrastruktur di lokasi utama festival belum memenuhi target.
Berdasarkan hasil koordinasi antara Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan, progres penyiapan lahan baru mencapai sekitar 35 persen.
Masih terdapat sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan, mulai dari pengecoran hingga penataan kawasan. Karena itu, dibutuhkan tambahan waktu sekitar dua hingga tiga minggu agar lokasi benar-benar siap digunakan.
“Setelah dievaluasi bersama, pekerjaan di lapangan belum memungkinkan untuk mendukung pelaksanaan pada awal Agustus,” katanya.
Baca juga: Gilberd Yakwart: Efisiensi Anggaran Tak Boleh Ganggu Kualitas Pelayanan Publik
Gilberd mengungkapkan, anggaran pelaksanaan FDS XV Tahun 2026 diperkirakan berkisar Rp2 miliar hingga Rp2,5 miliar yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Jayapura. Nominal tersebut lebih kecil dibandingkan pelaksanaan festival pada tahun-tahun sebelumnya yang dapat mencapai Rp5 miliar hingga Rp7 miliar.
Meski demikian, panitia tetap berupaya menghadirkan berbagai kegiatan menarik yang melibatkan masyarakat lokal. Salah satunya program makan papeda gratis selama satu hari penuh yang akan disiapkan bagi warga Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura maupun wisatawan yang datang berkunjung.
Program tersebut akan memberdayakan mama-mama asli Papua, khususnya masyarakat Sentani dan Grime, sebagai penyedia makanan tradisional khas Papua tersebut.
Selain itu, panitia juga merancang program minum kopi gratis dengan memperkenalkan kopi asli Kabupaten Jayapura sebagai produk unggulan daerah.
Tak hanya itu, sejumlah atraksi budaya juga tengah dipersiapkan untuk diajukan ke Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Salah satunya pembuatan satu juta hiloi oleh mama-mama Papua dari kawasan Sentani.
“Kami sudah menyurati pihak MURI dan akan berkoordinasi langsung agar kegiatan ini bisa mendapatkan penilaian dan mencatatkan rekor,” ungkapnya.
Gilberd menegaskan, perubahan jadwal FDS XV 2026 juga akan dikoordinasikan dengan Kementerian Pariwisata mengingat Festival Danau Sentani telah masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN).
Menurutnya, penundaan ini merupakan konsekuensi dari upaya pemerintah daerah memastikan seluruh infrastruktur dan kesiapan penyelenggaraan benar-benar matang sehingga Festival Danau Sentani XV Tahun 2026 dapat berlangsung lebih baik dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Laporan: M. Irfan

















